AKULTURASI BUDAYA JAWA PADA PERAYAAN MAULID YANG MASIH DIJAGA OLEH MASYARAKAT PEDESAAN DI ERA MODERNISASI

0

Tradisi maulid nabi ialah suatu perayaan yang selalu dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW selaku wujud rasa cinta kepada Nabi Muhammad. Tradisi ini banyak dilakukan oleh umat Islam bermacam belahan dunia termasuk Indonesia. Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW dilaksanakan bertepatan pada 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Di Indonesia sendiri, umat Islam memperingati Maulid Nabi dengan bermacam metode. Macam-macam perayaan itu biasanya didasarkan pada kebiasaan serta adat istiadat wilayah setempat, walaupun berbeda dalam wujud perayaannya, tetapi pada hakikatnya tradisi maulid tidak hanya semata-mata mengingat sejarah untuk kalangan muslim. Tradisi ini juga sebagai pengingat umat muslim bahwa Nabi Muhammad menjadi inspirasi yang sangat sempurna untuk seorang muslim dalam menempuh apapun dalam kenyataan kehidupannya.

Berbicara mengenai adat istiadat (tradisi) bukan sesuatu yang jarang dibahas melainkan sering dibicarakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa adat istiadat mengacu pada tata kelakuan yang kekal serta turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat. Ada pula arti lain adat istiadat disebut sesuatu yang terjadi berulang-ulang secara terus menerus sehingga melekat, dipikirkan dan, dipahami oleh semua orang. Menurut Koentjaraningrat bahwa adat istiadat ada 3 wujud yaitu Pertama, wujud sebagai ide, gagasan, nilai, atau norma. Kedua, wujud kebudayaan sebagai aktivitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia.

Perkembangan tradisi tentunya akan terbentuknya akulturasi, dimana sebutan ini lebih tepat dipakai untuk perpaduan antara kebudayaan satu dengan yang lain agar menciptakan nilai yang tercantum pada budaya tersebut. Dengan perpaduan budaya ini, masyarakat dapat menerima serta diperuntukkan suatu pemikiran hidup dari sisi bermasyarakat yang menghasilkan suatu interaksi. Agama sendiri berasal dari bahasa sansekerta dari kata ‘a’ yang artinya tidak dan  kata ‘gama’ yang artinya kacau. Jadi, pengertian dari agama adalah sesuatu yang tidak kacau. Fungsi agama disini diartikan sebagai penjaga integrasi dari seseorang atau kelompok agar hubungan antara manusia dan Tuhan (Allah) tidak kacau. Kekacauan ini disebabkan oleh moralitas dan nilai kehidupan yang tidak sejalan. Pada dasarnya manusia sebagai pelaku budaya membutuhkan interaksi vertikal kepada Tuhan dan horizontal kepada manusia.

Akar budaya Indonesia yang dianut yaitu animisme dan dinamisme khususnya masyarakat Jawa cukup memiliki daya tahan kuat terhadap pengaruh budaya luar. St. Takdir Alishjahbana berpendapat bahwa Islam dan kebudayaan Jawa masih dikuasai oleh agama yang diikuti oleh solidaritas dan nilai kesenian. Sedangkan konsep bergama ideal sendiri jika nilai agama berhasil menjiwai nilai budaya itu sendiri. Jadi, agama dan budaya adalah sesuatu yang tidak dipisahkan karena keduanya memiliki kesatuan yang mempunyai makna yang berbeda. Hal ini dapat kita lihat ketika wali songo menyebarkan Islam di Pulau Jawa dengan menggunakan wayang. Maka dari itu kita bisa mengambil arti bahwa ketika wali songo menyebarkan agar masyarakat Jawa percaya, meyakini, dan mengikuti agama Islam membutuhkan akulturasi antara Islam dan Jawa agar yang disampaikan tidak bertentangan dengan adat kebiasan mereka. Dari sinilah muncul tradisi Maulid Nabi menggunakan akulturasi Islam Jawa atau Islam Nusantara, namun tidak menghilangkan nilai ajaran Islam sendiri.

Dalam memperingati maulid nabi masyarakat Jawa mengenal dengan ‘Upacara Muludan’. Masyarakat Jawa ini menjadi salah satu penduduk/etnis/suku terbanyak di Indonesia sehingga berpengaruh pada banyaknya budaya yang ada di Indonesia. Biasanya muludan ini lebih dikenal di tengah-tengah Sunda. Akan tetapi, walaupun demikian muludan ini dikenal juga di masyarakat Jawa. Muludan merupakan nama lain dari Maulid Nabi yang ada dalam adat Jawa memiliki makna sebagai hari peringatan lahirnya Nabi Muhammad SAW, serta perayaan itu sendiri diadakan bertepatan pada 12 Rabiul Awal. Tradisi memperingati Maulid Nabi bukan hanya dirayakan atau berlaku untuk masyarakat Jawa saja, namun berlaku pula di wilayah Nusantara seperti Sumatra dan wilayah lainnya hanya saja cara dan prosesnya menyesuaikan dengan adat ataupun budaya yang berlaku.

Dilansir oleh Ilmuseni.com, ada beberapa kegiatan dalam rangka memperingati muludan. Pertama, sebagian orang melakukan puasa pada bulan itu yang diyakini memiliki keistimewaan tersendiri daripada bulan lain. Kedua, beberapa masyarakat menjadikan bulan yang identic terhadap perayaan tertentu, misalnya  tradisi Nyangkau di Panjau untuk membersihkan senjata pusaka yang dianggap keramat dan sebagai bentuk tradisi turun temurun sejak dulu. Ketiga, sebagian pesantren/madrasah mengadakan pertunjukan pagelaran seni Islami. Keempat, biasanya di Masjid, Mushola, dan tempat pengajian lainnya terdapat kegiatan Qashidah Barjanji, Qasidah Burdah, dan sebagainya. Kelima, banyak masyarakat melakukan ziarah kubur. Dan masih banyak lagi kegiatan atau acara yang biasa dilakukan dalam rangka memperingati Maulid Nabi.

Islam sebagai agama yang dapat melintasi ruang serta era, kadang berjumpa dengan tradisi lokal yang berbeda-beda. Kala Islam berjumpa dengan tradisi lokal, wajah Islam berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Menyikapi permasalahan ini terdapat 2 hal yang perlu kita sadari. Pertama,  Islam itu sendiri sesungguhnya lahir pada produk lokal yang setelah itu diuniversalisasikan serta ditransendensi sehingga menjadi Islam umum. Dalam konteks Arab yang diartikan sebagai Islam produk lokal adalah Islam yang lahir di Arab tepatnya wilayah Hijaz, dalam suasana Arab serta pada waktu itu diperuntukkan sebagai jawaban terhadap persoalan yang tumbuh disitu. Islam Arab tersebut terus tumbuh ketika berjumpa dengan budaya serta peradaban Persia serta Yunani, sehingga setelah itu Islam menghadapi proses dinamisasi kebudayaan serta peradaban.

Kedua, meski Islam diyakini sebagai wahyu Tuhan yang umum, yang gaib tetapi kesimpulannya dipersepsikan oleh sang penganut sesuai dengan pengalaman, problem, kapasitas intelektual, sistem budaya, serta seluruh keragaman tiap-tiap penganut di dalam komunitasnya. Dengan demikian, memanglah kedua ukuran ini butuh disadari di sisi sisi Islam sebagai umum/universal dan satu sisi lainnya sebagai kritik terhadap budaya lokal, serta setelah itu budaya lokal selaku wujud kearifan tiap penganut di dalam menguasai serta mempraktikkan Islam itu. Berkaitan dengan itu, Syah Waliyullah al-Dihlawi, pemikir Islam dari India mengemukakan adanya Islam umum dan Islam lokal. Ajaran tauhid (pengesaan Tuhan) merupakan universal yang harus menembus batas-batas geografis dan kultural yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sementara itu, ekspresi kebudayaan dalam bentuk tradisi, cara berpakaian, arsitektur, sastra, dan lain-lain memiliki muatan lokal yang tidak selalu sama.

Berangkat dari sini maka jelas bahwa keberadaan tradisi lokal sangatlah memperkaya jhazanah keislaman. Tiap-tiap tradisi lokal itu terletak pada posisi yang abash untuk diakui keberadaannya sebagai bagian dari Islam yang letaknya setara dan sederajat. Salah satu tradisi lokal warga nusantara yang sampai saat ini masih hidup serta tumbuh merupakan tradisi maulidan. Inti dari tradisi maulidan merupakan ritual tertentu yang dicoba dengan tujuan untuk mengenang Rasulullah SAW. Implikasi dari tradisi maulid sendiri masih sangat dijaga oleh masyarakat pedesaan sampai saat ini. Di sini penulis yang bertempat tinggal di Provinsi Jawa Timur, Kab. Kediri, tepatnya di Desa Ngasem. Desa Ngasem, dengan masyarakat desa yang masih melestarikan dan menjaga budaya Jawa dalam tradisional Islam yaitu tradisi maulidan. Tradisi maulidan bukan hanya semata-mata acara peringatan kelahiran nabi saja, tetapi juga tetap menjaga budaya tradisi Jawa yang sudah berlangsung lama. Dan perjuangan dakwah wali songo dalam menyebarkan agama Islam melibatkan akulturasi antara budaya dan Jawa sehingga muncullah tradisi ini setelah media perwayangan dengan cara Islam Lokal/Islam Jawa/Islam Nusantara.

Tradisi maulidan ini dilaksanakan ketika malam hari maulid dengan membawa ‘berkat’. Tradisi ini biasanya dilakukan di mushola terdekat kami. Proses yang biasa dilakukan ialah setelah  maghrib membawa berkat atau makanan bisa berupa nasi kotak, buah-buahan, jajanan, dan sebagainya. Kemudian diletakkan di dalam tengah-tengah lingkaran orang-orang. Setelah semua warga lengkap, orang yang memimpin maulidan ini membacakan susunan, memimpin doa, dan ceramah. Tradisi ini berlangsung kurang lebih satu jam. Ketika pemimpin sudah membaca doa-doa dan ceramah, hal selanjutnya adalah membagikan makanan yang bukan miliknya sendiri dengan masyarakat sekitar yang mengikuti. Pada saat memberikan ceramah kepada warga atau masyarakat yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan atau wawasan dan mengingatkan kepada umat muslim mengenai perjuangan Rasulullah SAW menyebarkan agama Islam dan sepatutnya kita meneladani sang rasul juga menerapkan di zaman ini.

Dengan menjaga dan melestrasikan tradisi ini berulang kali menambahkan keimanan kepada Allah SWT, meneladani sikap dan perjuangan Rasulullah serta menjaga budaya Islam Nusantara tanpa menghilangkan esensi ajaran Islam tersendiri. Dalam hal ini dapat dihubungkan dengan ‘Tradisionalisme Islam’ yang digagas oleh Sayyed Hossein N. Gagasan yang dilontarkan oleh Sayyed Hossein N berupa kritikan terhadap peradaban modern yang bisa terjadi di generasi sekarang. Menurut pandangan Nasr mengenai peradaban modern yaitu semakin menggelapkan hati manusia karena sekarang manusia menjadi manusia menuju kesombongannya yang berfikir bahwa ia bisa sukses dan Tuhan tidak perlu dilibatkan dalam hal apapun. Ketika manusia melakukan sesuatu atau bertindak terdapat satu unsur yang mempengaruhi yaitu keyakinan.

Jika keyakinan yang dianutnya bukan sesuatu yang baik maka bisa berakibat buruk. Misalnya jika manusia tidak mempunyai landasan keyakinan agama yang kuat maka tindakan yang dilakukan akan menyimpang dari ajaran agama tersebut. Karena di era sekarang banyak sekali manusia di luar batas yang melanggar eksistensinya sebagai manusia. Karena hal ini, Nasr merasa khawatir terhadap kecenderungan manusia yang lebih mengutamakan peradaban barat dan telah melupakan budaya asli sendiri. Banyak muda mudi mulai melupakan budaya masing-masing dan lebih mengikuti tren yang dianggapnya keren daripada budayanya sendiri. Dan tidak hanya itu, Nasr juga khawatir jika terus dibiarkan akan meracuni pemikiran umat Islam. Oleh karena itu, ia mencoba menyadarkan umat Islam dengan kembali kepada nilai-nilai luhur tradisi Islam sebagai perwujudan beragama pada Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa mengabaikan kemajuan dunia.

Nasr berkeyakinan bahwa jika akal manusia dapat mendekatkan diri kepada Allah apabila akal itu sehat dan utuh sehingga mendapatkan petunjuk pengetahuan dengan keyakinan yang kuat dan menjamin keutuhan dan kesehatan akal, sehingga bisa membedakan hal yang baik dan buruk serta tidak terbawa arus oleh duniawi. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang sedari kecil dibimbing oleh agama sudah sepatutnya kita tidak menirukan sisi negatif dari modernisasi dunia barat dan meninggalkan akar budaya kita yaitu Indonesia yang memiliki banyak tradisi. Meskipun kita hidup di zaman teknologi yang lahir dari sebuah keunggulan metodologi sains. Dan yang harus kita lakukan di era sekarang ini adalah bagaimana menyeimbangkan sisi agama (iman dan keyakinan) dan teknologi sehingga bisa berjalan bersamaan tanpa menyimpang dari budaya lokal.

Pembaharuan (tajdid) yang dilakukan oleh Nasr mengembalikan manusia pada asalnya sebagaimana sudah dicoba manusia dalam perjanjian suci dengan Tuhan sehingga membuat dirinya jatuh ke dalam belenggu karya rasionalitas yang meniadakan Tuhan. Bagi Nasr, pada awalnya manusia merupakan makhluk yang suci tetapi sebab penolakannya kepada Tuhan lewat tradisi ilmiah sudah membuat dirinya tidak memahami siapakah kenyataan sebetulnya ia dihadapan Tuhan-Nya. Nasr berkomentar kalau pembaharuan tidak dapat dicoba dari sisi materi saja. Akan tetapi, yang sangat dasar merupakan melaksanakan pergantian dari dalam dirinya sendiri, setelah itu melakukan pembaharuan terhadap kenyataan yang terdapat di sekitarnya. Oleh sebab itu, dengan kembalinya melakukan tradisi maulidan dalam rangka mengingat kelahiran dan perjuangan Rasulullah dapat menjadi dorongan atau stimulus yang bisa mengembalikan jati diri manusia kembali kepada manusia sebagai ‘Citra Tuhan’. Dengan menjalankan perayaan maulid menambah ketauhidan dan meneladani perjuangan Rasulullah dan mengembalikan Islam Nusantara yang sudah menjadi kebiasaan berulang kali. (EN)

Profil Penulis

*) Mita Afitarania

Mita Afitarania, seorang mahasiswi aktif prodi Psikologi Islam di Institut Agama Islam Negeri Kediri. Saat kuliah daring kegiatan yang dilakukan selain kuliah ialah mengikuti volunteer psikologi dan webinar. Untuk mengenal penulis, silakan hubungi email randyafita24@gmail.com.

About author

No comments