CERITA SI NENEK DAN GUYONAN IMAM SYAFI’I: MENGOBATI LUKA PANDEMI

0

Selepas mengajar, saya bergegas ke Surabaya. Di simpang tiga perbatasan kota menunggu travel, kebetulan bersebelahan dengan salah satu bank di sana. Saya memilih duduk di lobi depan, tiba-tiba seorang nenek menghampiri.

“Nak, nunggu antrian ya?” sapanya sangat halus.

 “Tidak, Nek, nunggu travel,” jawabku.

Setelah bercerita panjang lebar, ternyata nenek ini dulu mengalami penyakit stroke berat menahun, berobat kemana-mana tidak juga sembuh. “Tapi sekarang sudah sembuh, Nak,” pungkasnya. Saya terheran-heran, bagaimana bisa? Sudah pernah ke Surabaya, Semarang, bahkan Malaysia untuk berobat. “Saya senang, Nak, bisa memberikan gelang emas untuk anak dan cucu”. Saya masih tertegun, ternyata rasa senang itu dapat menyembuhkan penyakit akut, dan sebaliknya. Dulu si Nenek mulai stroke karena bekerja terlalu keras dan tidak mampu menunaikan janji untuk anaknya. Pikiran yang semrawut, tertekan, dan stres merupakan sumber banyak penyakit.

Dua kunci kesembuhan si Nenek, yang saya tangkap dari perbincangan saat itu. Kepasrahannya kepada Tuhan dan mengosongkan pikiran dari segala masalah. Akan tetapi, darimana si Nenek dapat membeli gelang emas? Kembali ke dialog tadi, ternyata si Nenek sedang menunggu antrian untuk menerima bantuan akibat pendemi. Sejak saat itu, kebutuhan si Nenek dan keluarganya terpenuhi, suasana menjadi tenang. Lalu, kok bisa? Saat si Nenek telah mengubur impian sampai menjadi penyakit menahun, dan melepaskan segala keinginan duniawi, tiba-tiba Allah berkehendak lain. Si Nenek sembuh dan impiannya terkabul. Si Nenek sehat kembali. Siapa yang dapat menyangka di usia yang renta. Lalu jarang sekali orang yang berpikir, ‘Apakah ini berkah pandemi?’ Bukan, tapi ini skenario Tuhan.

Kisah si Nenek mengingatkan saya pada kisah menggugah Imam Syafi’i dan guru beliau Imam Malik. Dalam suatu mejelis ilmu, Imam Malik mengatakan, “Rezeki itu datang tanpa sebab, seseorang cukup bertawakkal dengan benar, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukanlah yang menjadi bagianmu, selanjutnya biar Allah yang mengurus.”

 Kemudian, Imam Malik menyebut dasarnya dalam suatu hadis, “Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”. Namun, tiba-tiba Imam Syafi’i protes ke gurunya itu, “Wahai guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” tanya Imam Syafi’i. Dalam hatinya, Imam Syafi’i berpendapat bahwa untuk mendapat rezeki harus usaha dan kerja keras. Rezeki tidak datang sendiri.

Perdebatan pun terjadi. Namun, suatu saat Imam Syafi’i jalan-jalan. Ia melihat kabilah (rombongan) yang sedang memanen buah anggur. Ia pun ikut membantu. Setelah selesai, Imam Syafi’i diberi beberapa buah anggur sebagai tanda terima kasih. Imam Syafi’i senang bukan main, bukan karena anggurnya, melainkan seakan argumen beliau yang benar. Segera ditemuilah Imam Malik. Diletakkanlah beberapa buah anggur di depan Imam Malik seraya berkata, “Andaikan saya tidak keluar pondok untuk melakukan suatu hal (memanen anggur) tentu anggur itu tidak akan ada di tangan saya”. Imam Malik tersenyum, membuat Imam Syafi’i keheranan. Kemudian Imam Malik berkata, “Seharian ini saya tidak keluar pondok, hanya mengajar dan berpikir alangkah nikmatnya kalau hari yang panas ini bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini bagian dari rezeki Allah tanpa sebab? Cukup tawakkal saja, niscaya Allah memberikan rezeki”. Mendengar itu, Imam Syafi’i tertawa lepas, guru dan murid ini tertawa bersama.

Sama persis seperti si Nenek, bertawakkal saja, niscaya Allah memberikan rezeki. Si Nenek sudah tidak mampu, hanya bisa berserah diri. Kisah inspiratif si Nenek, dialog Imam Syafi’i dan Imam Malik, adalah bagian sepenggal cerita nyata kebenaran firman Allah dalam Q.S. Hud ayat 6, “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, di Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata”. Kisah si Nenek, dialog Imam Syafi’i dan Imam Malik, menggugah hati kita bahwa walaupun di masa Pandemi Covid-19, rezeki Allah tidak akan terputus. Siapa yang menyangka, karena ‘berkah’ pandemi, nenek yang tua renta memikul derita penyakit, terdata menerima bantuan setiap bulan. Lalu, apa yang dikhawatirkan? Usaha lesu, pendapatan berkurang, bersabarlah karena janji Allah kepada hambanya itu nyata. Wallahua’lam bisshawab …. (EN)

BIOGRAFI PENULIS

Basar Dikuraisyin, M. H.

Basar Dikuraisyin, M.H seorang dosen dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Dapat menghubungi penulis ke basardikuraisyin@uinsby.ac.id

About author

No comments