MEMUPUK SPIRIT KEBHINEKAAN MELALUI OLAHRAGA PON XX PAPUA

0

Pesta olahraga menjadi sebuah perhelatan yang banyak menyita perhatian, ribuan pasang mata menyaksikan hingga rela datang ke venue olahraga untuk menyaksikan sebuah pertandingan. Perhelatan olahraga bukan hanya dimaknai sebagai hiburan semata, akan tetapi dapat dimaknai lebih dari pada itu. Beragam orang dari berbagai macam latar belakang suku dan daerah duduk berdampingan menikmati sebuah sajian yang menarik dan bisa menjadi perekat sebagai sebuah bangsa yang multikultural.

Indonesia Timur memiliki pesona yang tak kalah dengan wilayah barat bahkan bisa dibilang mengungguli daerah barat Indonesia, wilayah timur menjadi kawasan potensial dalam pembibitan atlet. Seakan-akan mutiara terus bermunculan, jangan pula melupakan Sulawesi, Maluku, dan Papua. Atensi masyarakat lebih tertuju pada kemegahan Gelora Bung karno Jakarta atau mungkin asing dengan nama Tulehu di Maluku yang dikenal banyak mengorbitkan pemain nasional.

Bumi cenderawasih seakan tak habis dari perbincangan karena eksotisme bawah laut yang selama ini melekat pada Raja Ampat, Papua Barat. Selain itu, Papua juga terkenal sebagai penghasil olahragawan bertalenta bibit muda potensial bertebaran, khususnya sepak bola. Bakat hebat Papua dalam mencetak atlet berkualitas layak menjadi sorotan. Sebut saja Boaz Solossa yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Papua, tentu kelihaian dalam menggocek bola tak perlu diragukan.

Pekan Olahraga Nasional menjadi tempat berkumpulnya para talenta terbaik dari seluruh daerah di Indonesia. Bersaing guna menjadi yang terbaik sekaligus menjadi putra putri kebanggaan daerah dielenggarakan setiap 4 tahun sekali. Tahun ini menjadi edisi ke 20. Dan kian menarik pada perhelatan tahun ini dikarenakan dihelat di Papua dan baru pertama kali  digelar di tengah wabah Covid-19. Perhatian khusus bahkan diberikan presiden untuk membenahi papua membuatnya setara dengan daerah lain, hal itu dibuktikan dengan berdirinya jembatan Youtefa.

Presiden bahkan sampai mengeluarkan Instruksi Presiden tepatnya Inpres Nomor 1 tahun 2020 tentang dukungan percepatan penyelenggaraan PON XX Papua dengan beragam fasilitas olahraga dibangun dengan layak. Seperti dikutip dari laman Sekretaris Kabinet RI yang menyebutkan bahwa Presiden juga menginstruksikan kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk: a. mengalokasikan anggaran dan melaksanakan pembangunan baru prasarana dan sarana olahraga: istana olahraga, akuatik, hoki, kriket, dan lapangan panahan di Kabupaten Jayapura, arena sepatu roda dan arena dayung di Kota, Jayapura, penataan kawasan olahraga di Kampung Harapan dan Doyo Baru di Kabupaten Jayapura, dan pembangunan baru rumah susun di Provinsi Papua yang akan digunakan sementara sebagai wisma atlet selama para atlet melakukan persiapan hingga pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional XX dan Pekan Paralimpik Nasional XVI Tahun 2020 di Provinsi Papua; dan b. mengalokasikan anggaran dan melaksanakan pembangunan jalan Telaga Ria-Khalkote-Dapur Papua di Kabupaten Jayapura dan peningkatan jalan Merauke-Kuprik-Tanah Miring untuk mendukung kegiatan olahraga balap motor di Kabupaten Merauke dalam Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XX dan Pekan Paralimpik Nasional XVI Tahun 2020 di Provinsi Papua.[1]

Event nasional ini terpaksa harus mengalami keterlambatan penyelenggaraan yang awalnya dihelat 2020 harus mundur hingga 2021 karena adanya pandemi Covid-19. Menjadi sebuah kesempatan untuk meningkatkan intensitas berlatih para atlet guna mempersembahkan prestasi yang gemilang dan memperbaiki kondisi kebugaran sebelum bertanding. Dengan adanya pembangunan tersebut masyarakat dapat merasakan fasilitas olahraga yang layak seperti halnya apa yang dirasakan masyarakat di pulau Jawa. Hal tersebut juga mungkin menjadi pengalaman pertama sekaligus bertujuan untuk menciptakan lembaran sejarah dengan menjadi salah satu kandidat juara. Hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang mustahil karena Papua dipenuhi atlet berbakat dan juga siap membuat kejutan.

Budaya Papua  sangat kental dan terepresentasi pada stadion baru kebanggaan Papua. Stadion tersebut mengalami pergantian nama, sebelumnya bernama Papua bangkit akan tetapi tak berselang lama berganti nama, nama tersebut diambil dari nama gubernur Papua dan akhirnya resmi berganti nama  menjadi stadion Lukas Enembe. Tentu stadion ini bukan hanya menjadi kebanggaan Papua saja melainkan menjadi kebanggaan Indonesia.

Mengimplementasikan sebuah semboyan bangsa tak hanya berdasarkan teori semata, banyak dilakukan  lembaga pendidikan formal dengan memperkenalkan bahwasannya semboyan negara adalah Bhinneka Tunggal Ika. Akan tetapi, banyak generasi yang salah paham maksud dan cara menerapkannya. Banyak narasi yang menyudutkan masyarakat timur yang tentu amat timpang dengan masyarakat di pulau Jawa dan Sumatera yang bisa merasakan nikmatnya fasilitas belajar yang memadai. Hal yang sebaliknya justru dirasakan anak-anak papua yang tidak seberuntung mereka. Mereka harus berjuang lebih untuk bisa mendapatkan akses pendidikan.

Olahraga menjadi media menanamkan spirit kebhinekaan. Hal ini selaras akan banyaknya atensi yang ditujukan pada bidang ini baik gnerasi tua maupun muda. Di lain sisi juga menjadi edukasi alternatif bagi anak untuk mengenal lebih dekat Indonesia  dan keunikannya. Jadi, bisa dikatakan bahwasannya PON bukan hanya sekadar ajang seremonial olahraga melainkan sebagai alat pemersatu bangsa yang mudah diterima. Ajang olahraga menjadi tempat untuk mengenal dan mempelajari kebudayaan daerah sekaligus menambah wawasan kebudayaan yang selama ini belum kita ketahui, mungkin masih sebatas mengetahui kebudayaan daerah sendiri.

Beragam kebudayaan luar telah masuk pada generasi muda, sebut saja K-Pop yang membawa pengaruh besar pada gaya hidup dan identitas anak muda Indonesia. Bahkan, menjadi kian populer dan dinikmati fashion identik serupa dengan kesukaan idola mereka. Sedangkan permasalahan bangsa tak menjadi perhatian khusus mereka. Besarnya rasa kebhinnekaan akan memperbesar peluang terus melakukan perbaikan untuk mempercepat kemajuan dan kemandirian sebuah bangsa. Hal ini sebagai upaya  meminimalisir gelombang pengaruh barat memasuki para generasi muda Indonesia. Dengan besarnya rasa kebhinekaan, diharapkan rasa keindonesiaan meningkat dan jati diri sebagai bangsa yang beragam menguat. (EN)

Profil Penulis

*) Muhammad Iqbal Fuadhi

Muhammad Iqbal Fuadhi merupakan mahasiswa aktif  program studi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Kediri. Selain aktif kuliah, penulis juga aktif dalam beberapa kegiatan organisasi diantaranya LPM Dedikasi, dan IMM Komisariat At- Tazkiyah IAIN Kediri. Untuk mengenal penulis silakan hubungi melalui email pribadinya fuadhiiqbal@gmail.com atau instagram @iqbalfuadhi.

[1]https://setkab.go.id/inilah-inpres-nomor-1-tahun-2020-tentang-percepatan-dukungan-penyelenggaraan-pon-xx-di-papua/  diakses pada 31 Agustus 2021)

About author

No comments