Nasib Kuliahmu Berdasarkan Jaringan Internetmu

0

Covid- 19 adalah Hot Issue di era sekarang. Pandemic ini berdampak sangat besar tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Semua bidang terpengaruh oleh adanya pandemic ini. Dilasir dari worldometers jumlah korban yang telah terinfeksi oleh firus ini ada 7,325,839 diseluruh dunia (10 Juni 2020). Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Yang mempunyai sekitar 238.518.000 jiwa (Kompas.com), berdasarkan data tahun 2015.

Berdasarkan website resmi Gugus Percepatan Penanganan Covid 19 (covid19.go.id) jumlah pasien yang ada di Indonesia sudah mencapai 33.076 jiwa/ 6 Juni 2020, dan Jawa timur mendapatkan peringkat kedua setelah DKI Jakarta dalam jumlah pasien terbanyak yaitu sekitar 6.533. bagi warga yang tinggal di Jawa Timur, ini cukup menghawatirkan. Bagaimana tidak, pandemic ini sudah mempengaruhi banyak aspek, dari aspek ekonomi, sosial, Pendidikan dan Kesehatan.

Pada aspek Pendidikan, terjadi perubahan yang sangat drastis dan signifikan dalam proses pembelajarannya. Dengan proses Pendidikan yang terbiasa bertatap muka antara dosen dan mahasiswa, setelah covid 19 melanda, mereka di paksa untuk merubah system perkuliahan menjadi system daring. Mungkin, bukan perkara sulit bagi perguruan-perguruan tinggi yang berada di perkotaan. Akan tetapi, bagi perguruan tinggi di daerah akan menjadi kendala yang cukup signifikan. Untuk melakukan kuliah daring butuh usaha yang lebih, mengingat banyak keterbatasan-keterbatasan yang ada.

Berdasarkan pengamatan penulis, yang juga sebagai objek dalam proses perkuliahan daring yang pada tanggal 21 April 2020 pertama kali dimulainya perkuliahan secara daring, akan mejabarkan kendala-kendala yang dialami selama proses perkuliahan daring tersebut. Pada tanggal 9 Maret 2020, kementrian Pendidikan telah mengeluarkan keputusan resmi terkait dengan kuliah daring yang harus dilakukan oleh seluruh dunia Pendidikan di Indonesia, termasuk jenjang perguruan- perguruan tinggi, tidak terkecuali kampus tempat penulis mengajar. Setelah keputusan resmi itu turun, para petinggi kampus langsung mengadakan rapat personal, membicarakan bagaimana proses perkuliahan daring ini akan berlangsung.

Singkat cerita, dengan berbagai pertimbangan yang ada, para petinggi kampus memutuskan untuk menghentikan proses perkuliahan dikampus selama 2 minggu dengan harapan besar pandemik ini akan segera berakhir. Akan tetapi, dengan keluarnya keputusan gubernur Jawa Timur pada tanggal 16 April 2020, yang berisi tentang perpanjangan masa belajar dari rumah sampai tanggal 1 Juni 2020, para pimpinan memutuskan untuk tetap melanjutkan perkuliahan dengan system daring. Disinilah awal nasib nilai para mahasiswa ditentukan berdasarkan kelancaran jaringan internet di desa masing- masing.

Pada saat itu, penulis dan juga sebagai dosen mengampu mata kuliah Listening comprehension untuk semester 2 dan 4. Disinilah dilema dosen dimulai. Karena keterbatasan dosen dan ketidak terbiasaan dosen dalam proses perkuliahan daring, sehingga dosen sedikit kebingungan dalam menentukan aplikasi apa yang sesuai dengan mata kuliah yang diampu. Dengan mencoba berbagai macam aplikasi, akhirnya dosen mendapatkan sebuah aplikasi yang menurut dia sangat sesuai untuk mata kuliah Listening Comprehension.

Masalah tidak selesai sampai disini, pada awal perkuliahan (21 April 2020) dosen dan mahasiswa mendapatkan banyak kesulitan yang di hadapi. Mereka membutuhkan adaptasi untuk mengoprasikan aplikasi tersebut.  Banyak keluhan- keluhan dari para mahasiswa dalam proses perkuliahan daring ini. Ini sebagai tantangan dosen dalam melancarkan proses perkuliahan daring yang masih termasuk baru dalam system perkuliahannya. Lalu, dosen mencoba mewawancarai para mahasiswa, inti dari wawancara tersebut adalah untuk mengetahui kendala- kendala  dihadapi oleh mahasiswa dalam proses perkuliahan ini.

Berdasarkan qustionnare yang telah diberikan, kendala pertama adalah kuota internet yang dimiliki mahasiswa. Karena dampak dari covid 19 ini begitu besar dalam berbagai bidang, termasuk bidang ekonomi. Sehingga, para mahasiswa juga harus berfikir ulang dalam pembelian kuota internet untuk perkuliahan. Mereka tidak mungkin tega memaksa orang tua untuk membeli hal yang menurut mereka bisa di kesampingkan, karena membeli beras lebih penting. Cambukan keras untuk dosen Ketika melihat jawaban beberapa mahasiswa yang kurang lebih hampir sama. Kendala kedua adalah kelancaran jaringan Internet disetiap daerah tidak sama. karena mata kuliah listening, sehingga membutuhkan due date dalam pengerjaannya sebagai bentuk jawaban yang diberikan mahasiswa valid, sesuai dengan pemikiran sendiri. Itu teorinya, prakteknya lumayan jauh dari ekspektasi. Contohnya, apabila seharusnya proses pengerjaannya membutuhkan  waktu 30 menit, akan tetapi bisa dilakukan seharian oleh mahasiswa yang mempunya jaringan internet yang buruk, padahal setelah 30 menit, soal yang diberikan akan menghilang. Akhirnya, dosen memberikan kelonggaran yang lebih agar proses perkuliahan berjalan lancar. Dan alasan yang lain adalah kurang mengertinya orang sekitar dalam memahami perkuliahan daring. Ada seorang mahasiswa yang bilang, “masih enak-enaknya kuliah, tiba-tiba ibu saya datang miss, lalu meminta saya untuk membelikan garam diwarung sebelah. Buyahlah konsentrasi saya miss.” Untuk masalah ini sepertinya dosen belum bisa membantu.

Berikut adalah penjabaran- penjarabaran kendala yang dialami dosen pengampu Listening Comprehension program studi Tadris Bahasa Inggris. Mungkin kendala- kendala ini juga dialami oleh para dosen dikampus- kampus yang lain. Besar harapan para dosen untuk pihak- pihak yang berwanang untuk memikirkan Kembali solusi yang tepat dalam proses perkuliahan di situasi pandemic ini. Terutama bagi dosen dan mahasiswa yang tinggal didaerah yang mempunyai jaringan internet yang buruk, mengingat untuk akhir bulan Agustus nanti akan dimulai perkuliahan semester ganjil yang menurut scenario Menteri Pendidikan, proses perkuliahan secara daring akan berlangsung sampai akhir tahun.

Untuk para mahasiswa, agar tetap semangat dalam belajar di situasi dan kondisi apapun. Ingat, manusia diciptakan untuk bertahan dalam kondisi apapun, Inshaa Allah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan manusia itu sendiri. Sulit memang, sangat sulit bahkan. Tapi, bukan berarti para pejuang Pendidikan di Perguruan Tinggi, dari dosen dan mahasiswa tidak bisa melaluinya. Tetap berusaha sesulit apapun itu. Saya sangat bangga dengar seluruh mahasiswa saya, yang 75% lebih dari mereka tetap semangat dalam perkuliahan daring ini. Semoga semua cita-citamu tercapai nak, semoga kalian semua menjadi orang yang berpengaruh dalam memajukan bangsa dan negara Indonesia. Salam… (AIN)

Fatqu Rofiqoh Dewi M. Pd*

Fatqu Rofiqoh Dewi M. Pd*

*Fatqu Rofiqoh Dewi M. Pd. Dosen dan Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Hasanudin

highlight

About author

No comments