Sensasi Kecerdasan Buatan: Kini Menjelma Penguasa Covid-19

0

Pandemic covid-19 ini memunculkan banyak ketidakjelasan situasi. Berbagai sektor perekonomian, pun juga pendidikan merasakan dampak yang tidak biasa. Masyarakat terpontang-panting meminta uluran tangan, padahal yang diminta tidak memiliki kepastian, entah mengulurkan atau malah menarik tangan. Sebagai manusia biasa tentu merasakan gejolak emosi pada jiwa, akhirnya kritikan pedas pada kebijakan lolos juga dari lisan mereka, bahkan penulis tak henti menggerutu pada keadaan yang tak kunjung membaik. Namun sejatinya sebagai hamba tuhan, apalagi yang bisa dilakukan selain ber-tawakal dan melangitkan pengharapan terbaik kepada-Nya.

Lantas bagaimana kabar peradaban saat ini? Kata apa yang tepat untuk menyebutnya? Rasanya frase “Dunia Terbalik” pantas disandangkan, berkaca pada reformasi besar-besaran globalisasi yang kian hari kian menjadi. Teknologi telah mendrobrak pasar dunia. Kecerdasan benda digital adalah relfeksi plagiarism pada kebiasaan manusia. Bagaimana tidak, jika ilusi jadi ilustrasi penginspirasi, pun interaksi jadi interaktif ibu jari. Sungguh luar biasa bukan?!

Layaknya cenayang (mendapatkan informasi, energi, atau kekuatan di dalam kesadaran kosmik, serta kemampuan untuk memanfaatkan informasi, energi, atau kekuatan yang telah diperoleh) bisa melihat kehidupan masa depan, kecerdasan digital selalu diagung-agungkan di keramaian, dan tak lepas dari pandangan. Tak heran jika disebut Live Saver bahkan kini ditetapkan sebagai Raja setiap penjuru dunia. Remaja millennial menyebutnya “Suhu” karena keahliannya dalam menyediakan informasi melebihi seorang pendidik, malah pendidik gencar berguru padanya.

Mereka juga menyebutnya “Mbah”. Berasal dari bahasa jawa, istilah tersebut merujuk kepada orang yang sudah sangat sepuh/tua. Dengan anggapan para sesepuh sudah banyak makan garam kehidupan. Gelegar asam manis pengalaman membantu mereka dijunjung karena ilmu bertahan hidupnya. Minoritas tergantikan oleh Mayoritas. Era digital menjadi tumpuan. Bukan hanya pendidik saja, bahkan pemerintah juga ikut andil menyorotinya.

Berbagai aturan baru dalam ranah pendidikan telah dirilis, bak burung yang dikeluakan dari sangkarnya, memburu udara yang bertuan. Kemendikbud mengumumkan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbud No.15 tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah Dalam Masa Penyebaran Covid-19.  Kemendikbud menganjurkan untuk melaksanakan pembelajaran dalam jaringan (daring) di rumah masing-masing sejak bulan April lalu.

Pembelajaran sudah dirumahkan, artinya tuntutan peran belajar bergaya barat untuk orang asia. Pukulan keras. Pelajar Indonesia bukan Filandia yang tak gila persaingan, bukan juga Amerika yang anti intimidasi, apalagi Jepang yang ahli teknologi. Mengadaptasi cara belajar ala kebaratan yang independensi, kreatif dan punya daya eksplorasi tinggi. Kiranya tentu membuat pelajar asia kuwalahan dengan hanya berselancar pada benda digital bernilai canggih itu.

Doktrin peran ganda untuk para orang tua ternyata benar adanya, keluhan kesengsaraan menggema dipendengaran penulis . Pasalnya, para orang yang sudah berumur itu dihadapkan pada tugas rumah tangga juga tugas sekolah. Memang bernasib naas, kecanggihan teknologi disandingkan dengan kegagapan teknologi. Notifikasi berbagai subjek pelajaran menghujani tiada henti. Tak ada jalan lain selain mengajarkan anak untuk berpangku tangan pada hasil tanpa usaha diri sendiri.

Mengikuti derasnya arus perkembangan zaman, yang tinggi semakin melanglang buana, yang kecil semakin merana. Ironis sensasional menghantui para pemuja digital. Bukan harap mengejar ilmu, tetapi voice of netizen. Malu rasanya pada ajaran Kitab Ta’lim Al- Muta’alim, “Shahabat ibnu mas’ud berkata ilmu itu bukan dengan banyaknya periwayatan, karena sesungguhnya ilmu itu cahaya yang menancap di dalam hati”. Seseorang yang hidup seperti itu tidak akan mampu merasakan nikmatnya ilmu dalam kehidupan.

Menapaki sistem kehidupan negara kita yang terus-menerus hanya mengejar trend masa kini. Mindset ubud dunya mungkin tak mudah dipalingkan, Tampaknya setiap deklarasi gelaran World Health Organization (WHO) saat ini selalu menjadi sorotan karena kemampuannya menggegerkan jagad raya melalui wacana. Dari mulai status darurat covid-19, himbauan physical distancing, dan himbauan pemanfaatan teknologi informasi untuk menjaga hubungan sosial.

Genjotan dalam pengembangan aplikasi tak kenal kata akhir dengan segudang kemampuan. Semata-mata untuk menunjang kebutuhan akan informasi demi kemudahan akses masyarakat. Sayangnya, teknologi informasi selalu banyak disalahgunakan oleh kalangan tak beradab. Bukannya bersyukur malah tersungkur. Kata yang pantas untuk mereka penyandang toxid public. Jatuh dalam kebodohan dengan coba menambah kekacauan.

Kekacauan akibat oknum tidak bertanggung jawab penebar berita bohong telah meluluh lantahkan kepercayaan pengguna media informasi. Lantaran luasnya jaringan, lebar pula jalan perusuh sosial. Manipulasi berita sebagai pendongkrak kegemparan semata mengubah masyarakat active menjadi overprotective. Merajalelanya hoax itu sukses menerobos pertahanan imunitas raga.

Raga yang awalnya bertulang kokoh menjadi lunak tak berdaya. Sebab kepanikan berlebihan yang tak berkesudah menjadi teman bayangan. Konsumsi kalimat demi kalimat palsu tanpa saringan tidak mendorong masyarakat untuk melawan ganasnya pertarungan dengan virus ini. Tetapi saling membersamai untuk kebinasaan. Secara tidak langsung dikatakan, benda digital itu tidak mungkin bisa memberikan ruang panasea (penyembuhan) dalam memecahkan masalah sosial.

Menurut mitodologi Yunani, ada seorang dewa bermuka dua bernama Janus yang bisa melihat ke arah depan dan arah belakang sekaligus. Peradaban manusia pada zaman yang akan datang dan zaman dahulu dapat dilihatnya dengan mudah. Teknologi ibarat wajah dewa Janus. Berada pada dua sisi kemasyarakatan, antara positif dan negatif. Option tentu ada, hanya saja itu tergantung dari apa yang ingin digengam.

Entah bagaimana nasib peradaban manusia saat ini, jika rasa haus akan kematian terus melahap habis kehidupan. Huru-hara teknologi semakin mengikat dalam jeratan. Semua serba online. Beribadah, belajar, bekerja harus dengan bantuan kecerdasan digital. Covid-19 telah berhasil mengobrak-abrik tatanan sosial kehidupan kita.

Wajah kehidupan sosial negara kita yang bergantung pada mianzi (istilah China) atau menjaga nama baik, kini terjatuh juga. Masyarakat yang dulunya anti teknologi kini menjadi abdi.  Tingginya bad claim masyarakat yang sudah lama meradang terhadap teknologi sebagai penghancur moral bangsa terkhusus untuk young generation sekarang tertarik mundur.

Nyatanya, kecerdasan digital cukup mumpuni dalam misi penyelamatan kehancuran bangsa dan negara. Masyarakat berhamburan memeluknya agar tak ditinggalkan. Jika bisa bicara, pasti masyarakat ditertawakan. Seperti firman Allah SWT “Boleh jadi kamu amat membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah : 216).

Bukti sudah didepan mata. Semua bermula dari sudut pandang dan akan berakhir seperti itu pula. Meskipun demikian, fakta yang ada tidak bisa ditolak mentah-mentah begitu saja. Semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Cara terbaik yang bisa dilakukan dengan mengukur sejauh mana kita bisa mengoptimalkan fasilitas yang sudah disediakan untuk kita sebagai hamba yang hina, juga sebagai masyarakat yang taat aturan.

Covid-19 bukan virus fiksi penarik perhatian. Perangainya lebih ganas dari seorang pencuri kesehatan. Tidak ada wujud penyelamat seperti superman yang berkekuatan super, atau spiderman yang bisa berpindah tempat secepat kilat dengan jaring laba-labanya. Inilah kecerdasan digital yang hadir dengan segala pengabdiannya, melahirkan berbagai sosok penyelamat sebagai cerminan kehebatan. Maka tak khayal jika era digital menjelma sebagai penguasa masa pandemic ini. Salam… (@D)

Ayu Madona*

Ayu Madona*

*Ayu Madona; adalah Sekretaris IQRO’ MUDA Kota Kediri dan juga Mahasisiwi Aktif Tadris Bahasa Inggris-IAIN Kediri (Email: ayudonanadona@gmail.com)

highlight

About author

No comments