STUDI KASUS TENTANG EYANG SINGONOYO CIKAL BAKAL DAN POTENSI DESA SUKOREJO KABUPATEN BOJONEGORO

0

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah, budaya dan suku yang beragam, berbagai warna kulit, jenis bahasa, serta sejarah dari tiap-tiap daerah yang mempunyai ciri khas tersendiri. Seperti di Desa Sukorejo Kecamatan Kota Bojonegoro. Sebuah desa dengan penduduk terbanyak dan terbesar di Kabupaten Bojonegoro yang terletak di jantung Kota Bojonegoro.

Jika kalian tiba di sebuah gapura yang penuh dengan ukiran yang nampaknya di model mirip kayu disana tertulis “Sentra Industri Meubel Dan Ukir” itulah gapura yang  memasuki wilayah Desa Sukorejo dengan nama jalannya yaitu Jalan Brigjend Sutoyo. Desa Sukorejo terkenal sentra atau pusat industri meubel dan furniture berbahan dasar kayu jati. Apalagi, di desa ini terdapat TPK (Tempat Penimbunan Kayu) Perhutani yang dilelang dan dijual pada masyarakat. Sehingga, dengan sangat mudah, mendapat kayu jati gelondongan maupun olahan.

Jika kalian berjalan lurus ke arah Timur, kalian akan menjumpai area pemakaman di Desa Sukorejo yang diberi nama “Makam Kembar”. Disebut dengan nama demikian karena terdapat dua area pemakaman di sebelah Timur dan sebelah Barat yang tengah-tengahnya ada jalan melintas menuju ke desa lain. Di sinilah, Eyang Singonoyo dan istrinya dimakamkan. Eyang Singonoyo merupakan tokoh yang menjadi cikal bakal Desa Sukorejo. Nama asli dari Eyang Singonoyo adalah Raden Subkhan atau Raden Mas Joyo Hadikusumo, Ayahnya bernama Syahidu bin Raden Santri bin Raden Paku (Sunan Gunung Jati).

Dijuluki “Singonoyo” dengan arti macan yang kuat, karena kepiawaiannya dalam ilmu olah kanuragan yang digunakan untuk melawan kejahatan. Atas jasanya tersebut, pemerintah Rajekwesi memberinya sebidang tanah berupa hutan belantara (yang sekarang dikenal dengan Jalan Brigjend Sutoyo). Di tempat tersebut, istrinya melahirkan 4 orang anak yang diberi nama Singorejo, Singodongso, Singojoyo, dan Singodono. Lambat laun, anak cucunya semakin memenuhi tempat itu dan terbentuklah sebuah desa yang diberi nama “Sukorejo”  yang artinya “suko” adalah “suka” dan “rejo” berarti “ramai”. Selain jasanya dalam penyebaran agama islam, Eyang Singonoyo juga andil dalam berdirinya perguruan pencak silat tradisional Desa Sukorejo, yakni pencaksilat “RASA”.

“Pencak Silat “RASA” itu didirikan Eyang Achmadi yang masih keturunan dari Eyang Singonoyo”, ucap Bapak Masruhan. Pencak silat “RASA” berdiri pada tanggal 1 Mei 1948.  Pencak silat ini adalah pencak silat asli Desa Sukorejo. Organisasi “RASA” sendiri pertama kali dibawa oleh Eyang Achmadi, yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Sukorejo. Beliau juga yang mencetuskan gerakan-gerakan seni bela diri tersebut.

Kepanjangan dari “RASA” yaitu “Rukun Angudi Santosaning Anggo” yang berarti Mencari Kerukunan dan Kebaikan Rakyat. Menurut tokoh sekaligus guru besar pencak silat RASA, Bapak Masrukin, saat ini, perkembangan organisasi pencak silat RASA sudah berdiri di kantor – kantor cabang, seperti Kecamatan Tambakrejo, Ngasem, Dander, dan juga Kapas. Atlet yang ikut dalam organisasi pencak silat RASA juga sering dikirim mewakili kabupaten dalam setiap kejuaraan.

Jika kalian sedang berjalan-jalan di sekitar daerah Desa Sukorejo dan terhenti di depan makam kembar. Memang ketika memandang langsung suasana di dalam makam terasa ngeri. Namun perlahan pandangan pun berganti, seketika di depan makam menjadi ramai, banyak orang berlalu lalang. Dan di pertigaan makam kembar ini biasa digelar acara peringatan haul Eyang Singonoyo, setiap tanggal 20 Oktober. Mulai dari terop, panggung, dan stand-stand kecil didirikan. Acara ini rutin digelar tiap tahun yang berlangsung selama sepuluh hari, tepatnya Bulan Safar.

Di samping sejarah tentang Eyang Singonoyo, di desa ini juga terkenal dengan kerajinan industri meubel kayu jati. Kayu jati asal Bojonegoro sudah terkenal sampai manca negara, kerajinan meubel dan ukir-ukiran kayu jati dari Bojonegoro bukan dikenal karena bentuk atau modelnya saja, melainkan juga karena kualitas bahan bakunya yang dikenal bagus. Kualitas kayu jati asal Bojonegoro selama ini tidak ada yang menandingi. Kayu jati yang dihasilkan dari daerah hutan Bojonegoro berwarna merah bata, seratnya rata, kering, padat, dan kuat. Kayu jati itu bila dipakai sebagai bahan baku lemari, buffet, kusen, dan dipan akan tahan lama hingga puluhan tahun. Meuble dari Bojonegoro juga banyak yang dikirim di luar daerah hingga luar negri. Kebanyakan perusahaan meubel ada disepanjang Jalan Brigjend Sutoyo yaitu sebuah jalan yang membentang ditengah Desa dari Jalan Diponegoro sampai Jalan Basuki Rahmat. Bila kita menelusuri sepanjang Jalan Brigjend Sutoyo, kita akan banyak menjumpai showroom-showroom dan perusahaan meubel yang ada disepanjang jalan tersebut.

Dengan kondisi KLB ini kami pasti akan mengalami penurunan Omzet, namun harus bagaimana lagi, kita juga harus mentaati pemerintah agar bisa mengurangi penyebaran virus Corona di Bojonegoro” Kata Bapak Jalal salah satu pelaku usaha Kafe di Jalan Veteran Desa Sukorejo. (DEW)

Biografi Penulis

*) Haeny Mustika Surya Dewi

Nama                                                   : Haeny Mustika Surya Dewi.

Email                                                   : haenymustika@gmail.com

TTL                                                     : Bojonegoro, 20 November 2001.

Nim                                                     : 933508620.

Prodi/Kelas                                         : KPI/1A

Keaktifan dalam berorganisasi            : PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) di Desa Sukorejo.

Prestasi                                                : 1. Juara 3 Lomba Nyanyi tingkat SD/MI

  1. Dancer sewaktu di Mts.
  2. Menjadi Vocalist Band sewaktu di MAN 1 Bojonegoro.
  3.   Ikut berpartisipasi dalam pembuatan Album Genre project Sekolah Siaga Kependudukan.
  4. Menjadi Team Paduan Suara MAN 1 Bojonegoro.
  5. Public Speaking on Radio Bojonegoro.

About author

No comments