Eksistensi Platform Belajar Daring Kala Pandemi

0

Awal tahun 2020 kita cukup dikejutkan dengan adanya penyebaran virus yang bermula dari Kota Wuhan di Tiongkok, kemudian keluar Tiongkok hingga menjangkiti sejumlah negara sehingga Kota Wuhan ditutup. Wabah  tersebut menjadi kejadian luar biasa sampai ditetapkan WHO sebagai pandemi global setelah memakan banyak korban jiwa sejak awal kemunculannya.

Pandemi merambah dunia pendidikan beragam cara diupayakan guna keberlangsungan pembelajaran  salah satunya  mengubah pola pembelajaran di seluruh jenjang yang awalnya berbasis tatap muka kini siswa mulai beralih serta beradaptasi dengan pola pembelajaran baru yakni pembelajaran dalam jaringan atau daring. Hal ini menjadi sesuatu yang baru sekaligus tantangan tersendiri mengingat banyak siswa belum akrab dan mengenal sistem daring ini.

Di kota besar tentu sudah tidak asing dengan platform belajar daring atau bahkan mungkin banyak siswa yang menggunakan platform belajar daring sebagai penunjang belajarnya sebut saja Ruang Guru, Zenius, Quipper yang tentu saja sudah mapan infrastrukturnya/ Lantas, daerah timur dan terpencil mungkin tak banyak yang tahu sekaligus menjadi asing di telinga masyarakat timur apa itu Ruang Guru maupun Quipper.

Di tengah pandemi serta pembelajaran yang lebih dipusatkan di rumah membuat platform belajar daring kian menjamur dengan berbagai macamnya  bahkan konsorsium teknologi berlomba menawarkan beragam platform belajar dengan beragam fitur dan keunggulannya guna mendukung pembelajaran agar tetap berlangsung meski dengan cara daring mulai dari latihan soal, ujian semester hingga pekerjaan rumah yang tak mungkin dilakukan secara offline atau luring.

Menurut survei penetrasi internet yang dilakukan APJII pada 2020 hingga kuartal ke II mengalami peningkatan hingga 7,37 % dari populasi atau sekitar 196,7 juta pengguna, survei lain menunjukkan bahwa kontribusi kenaikan pengguna didominasi Pulau Jawa dengan 54,6%, Sumatera dengan 22, 1 % , disusul Sulawesi 7 %, Kalimantan 6,3 %, Bali dan Nusa Tenggara 5,2 % serta di posisi terakhir Maluku dan Papua 3 %.

Seiring meningkatnya tingkat penetrasi internet hingga lebih dari 7 persen menandakan bahwa semakin mudahnya akses belajar siswa terutama yang ada di Pulau Jawa akan tetapi pada kenyataannya masih banyak siswa yang harus berjuang untuk mendapatkan sinyal tentu sulit untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara penuh belum lagi  bantuan kuota juga tak banyak  membantu siswa karena tidak adanya sinyal di daerah tempat tinggalnya. Akibatnya, perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli kuota dan kartu yang mendukung  pembelajaran daring.

Mungkin masih banyak siswa yang memilih pembelajaran tatap muka dibanding pembelajaran daring meski platform belajar menjamur karena tidak begitu menguras biaya dan lebih ramah kantong. Namun, pembelajarannya terkesan monoton dan membosankan.  Pembelajaran dengan platform online bukan tanpa keunggulan salah satunya model pembelajaran serta metodenya kian beragam bisa berbasis animasi, video atau sejenisnya sekaligus menjadi persiapan di masa  mendatang dan tak menutup  kemungkinan pembelajaran akan berbasis  online permanen.

Tak sedikit siswa hingga guru yang belajar menggunakan platform digital seperti Ruang Guru, Quipper, dan lain sebagainya. Dikutip dari situs katadata.co.id, pada maret 2020 tercatat kurang lebih  terdaftar sebagai pengguna Quipper dan 8. 683 guru dari 4.492 sekolah. Sedangkan, Ruang Guru mengalami lonjakan  hingga 1 juta pengguna bahkan start up pendidikan lain yakni Zenius menyiapan beragam fitur  dan fitur terbarunya adalah Zenius live yang dapat dimanfaatkan guru untuk melihat dan menjawab dan pertanyaan siswa secara real time.

Belajar di suatu platform daring tentu memiliki beberapa keunggulan sebut saja pembelajaran dapat dilakukan secara interaktif dan berbasis video yang dapat diunduh secara gratis dan dapat dinikmati kapan saja tanpa mengaktifkan data seluler. Namun, para orang tua harus membayar tarif mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.Selain itu pengembang teknologi informasi sebut saja Google atau bahkan Facebook hingga Microsoft meluncurkan aplikasi belajar daring seperti Google Classroom. Sementara itu, Microsoft juga meluncurkan aplikasi Microsoft Teams untuk menunjang belajar daring.

Namun, hal tersebut tidak serta merta menjamin dapatmenunjang pemahaman siswa akan suatu materi terlebih lagi siswa tidak dapat menanyakan topik yang kurang dikuasai dikarenakan platform belajar daring bertumpu pada kemandirian siswa dalam belajar. Hal itu pula dapat dijadikan dalih untuk dapat mengakses Game Online dan konten lainnya. Sedangkan, melalui bimbel konvensional siswa memiliki banyak peluang untuk bertanya secara komprehensif sehingga pembelajaran terkesan lebih efektif karena di bawah bimbingan tutor, guru dapat mengevaluasi progres harian siswa serta mengetahui kendala yang dialami siswa. Kemudian, diberikanlah arahan serta solusi hingga mampu memenuhi kualifikasi untuk dapat bersaing di sekolah meski orang tua harus membayar dengan tarif yang jauh lebih mahal.

Seperti platform belajar daring juga memilki kendala yang tidak sedikit dari segi pemahaman apabila topik tidak terkuasai dan mengalami kendala siswa tersebut diharuskan mencari referensi tambahan untuk mendapatkan suatu jawaban. Di sisi lain platform daring tidak mampu menganalisa karakteristik dan pola belajar siswa karena tidak adanya asesmen untuk menganalisa sehingga terkesan kurang efektif, eksistensi platform belajar daring menggunakan siaran televisi melalui talkshow disertai testimoni sebagai media promosi dan publikasi terkadang disertakan di dalamnya penawaran berupa potongan harga yang jauh lebih miring dibandingkan bimbel konvensional cara tersebut membuat popularitas serta reputasi platform belajar online kian melejit dan membenamkan bimbingan belajar konvensional yang kian inferior.

Namun, bimbingan belajar luring memiliki cara tersendiri untuk memikat hati penggunanya, bimbingan belajar lebih menggunakan pendekatan konservatif melalui pamflet hingga datang ke sekolah untuk melakukan kerja sama sebagai media promosinya. Akses bimbingan belajar didapatkan oleh siswa dengan ekonomi mapan. namun sebaliknya siswa dari keluarga ekonomi menengah kebawah tentu sulit untuk mendapatkan akses tersebut.

Realitanya, banyak siswa justru membuang peluang untuk belajar dan lebih memilih mengakses konten di luar materi pelajaran bahkan larut dalam game daring. Sebagai komparasi banyak anak yang ingin mendapatkan kesempatan untuk dapat belajar di bimbingan belajar maupun platform belajar daring, semua itu kembali pada individu masing masing karena meskipun diletakkan pada bimbel terkenal dan mahal sekalipun apabila siswa tidak memiliki kesadaran dan jiwa pembelajar tentu tidak akan belajar dan lebih memilih untuk memperbanyak porsi bermain. Esensi dari belajar bukan hanya sebagai sebuah kewajiban melainkan suatu kebutuhan bagi setiap individu. (DEW)

Biografi Penulis

Muhammad Iqbal Fuadhi

Salah satu mahasiswa program studi Pendidikan Bahaa Arab semester 6 IAIN Kediri. Untuk mengenal lebih jauh tentang penulis dapat follow akun instagramnya @Iqbalfuadhi dan facebook iqbalfuadhi atau menghubungi e-mail pribadinya @fuadhiiqbal@gmail.com

About author

No comments