PEMBELAJARAN ONLINE DALAM PERPEKTIF ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI, DAN AKSIOLOGI DI ERA NEW NORMAL

0

Pendidikan mengalami transisi digital dari era normal menuju era new normal. Hal ini dilihat dari keadaan saat sebelum pandemi Covid-19, pendidikan dalam situasi pandemi Covid-19 hingga menuju kepada era new normal. Sebelum pandemi Covid-19 pembelajaran dilakukan secara offline learning dengan tatap muka langsung, secara synchronus dan asynchronus. Synchronus merupakan proses belajar dengan waktu yang bersamaan atau real time, yaitu pengajar bisa saling berinteraksi secara online dengan pelajar, belajar seperti ini bisa dilakukan dengan aplikasi zoom, google meet dan yang lain. Sedangkan, asynchronus adalah proses belajar dengan melihat materi yang sudah disiapkan sebelumnya dalam bentuk video pembelajaran. Selama situasi pandemi Covid-19 pembelajaran dilaksanakan secara full online, dimana siswa/mahasiswa dan guru/dosen tatap muka dalam virtual class. Selama pandemi Covid-19 kedudukan orang tua sebagai guru/dosen yang bertugas mendampingi anak dalam belajar. Menuju era new normal pembelajaran dilaksanakan secara full online, siswa dan mahasiswa dengan dosen tatap muka melalui virtual class dan dilaksanakan secara blended learning (campuran). Di dalam situasi new normal tidak hanya full online learning tetapi juga dengan offline learning namun tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Pandemi Covid-19 mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, pariwisata, ekonomi, bisnis, serta mempengaruhi jalannya Pendidikan tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia mengalami dampaknya. Masyarakat dituntut untuk sigap memerangi virus ini, karena melihat perkembangannya yang sangat cepat. Begitu banyak kebijakan-kebijakan serta surat edaran yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini, yang sampai akhirnya diberlakukannya kata new normal yang saat ini sedang berjalan, new normal merupakan strategi pemerintah untuk mengembalikan kondisi masyarakat yang sempat terpuruk akibat dari Covid-19.

Selama pandemi semua lembaga pendidikan menerapkan pembelajaran e-learning, pembelajaran dengan e-learning sendiri terbagi dua yaitu synchronus dan asynchronus. Synchronus merupakan proses belajar dengan waktu yang bersamaan atau real time, yaitu pengajar bisa saling berinteraksi secara online dengan pelajar, belajar seperti ini bisa dilakukan dengan aplikasi zoom, google meet dan yang lain. Sedangkan, asynchronus adalah proses belajar dengan melihat materi yang sudah disiapkan sebelumnya dalam bentuk video pembelajaran.

Dunia pendidikan saat ini nampaknya belum mengeluarkan aturan secara resmi mengenai new normal, namun lembaga pendidikan sudah membuat serta merancang skenario-skenario pembelajaran pada masa new normal saat ini yakni optimistis, pesimistis, dan moderat. Kondisi sebelumnya yang mengharuskan selama lebih dari tiga bulan peserta didik belajar dari rumah akibat Covid-19.

Skenario yang memungkinkan untuk dilaksanakan pada layanan pendidikan adalah mengikuti skenario ketiga, yakni skenario moderat dengan pendekatan blended learning. Pendekatan blended learning pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap-muka (luring) dan secara virtual (daring). Ia akan menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, dengan berbagai pilihan media dialog antara pendidik dengan peserta didik, baik secara langsung (faceto-face) maupun secara daring.

Menggabungkan kelebihan-kelebihan pada kedua cara tersebut dalam sebuah proses pembelajaran yang efektif merupakan ciri dari blended learning. Blended learning akan memberikan keuntungan, di antaranya fleksibilitas dalam memilih waktu, tempat untuk mengakses pelajaran, dan pemilihan materi-materi yang tepat, sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan kapasitas lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Pendekatan blended learning, tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya, cenderung dapat dijadikan alternatif strategis. Jika dilakukan dengan pendekatan 100% daring, maka proses Pendidikan tidak akan efektif. Sebab, hingga saat ini, infrastruktur jaringan, kemampuan sumber daya manusia, dan kesiapan pembiayan pada seluruh stakeholder pendidikan belum memungkinkan. Di sejumlah daerah tertentu kondisi signal telekomunikasi masih belum bisa diakses, pendidik dan peserta didik belum semuanya memiliki kesiapan atas penggunaan media komunikasi dengan baik, dan tentunya beban finansial akan semakin besar. Eksperimentasi dalam beberapa bulan terakhir, dengan sebagian pendidik dan peserta didik telah memulai proses pembelajarannya secara masif.

Secara virtual, patut untuk dijadikan pengalaman berharga dalam pelaksanaan blended learning. Donder dan Wisarja menjelaskan bahwa perkembangan pedidikan harus berorientasi pada kebaikan masyarakat. Oleh sebab itu, pendidikan dikatakan berkembang jika sudah memenuhi tiga unsur penting yaitu unsure ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Pendidikan jika dilihat dari perspektif secara ontologis adalah sebagai upaya pemberian bimbingan secara sadar dalam rangkaian kegiatan pendidikan terhadap manusia yang memiliki potensi akal dan budi guna menumbuhkan kesadaran akan asal mula dirinya keberadaannya, serta tujuan hidupnya, guna terwujudnya sifat kemanusiaan yang dalam setiap perilakunya dilandasi ajaran atau nilai yang terkandung dalam agama.

Perkembangan pendidikan pada era new normal dilihat dari pespektif ontologis yaitu dimana siswa/mahasiswa dan guru/dosen secara sadar atau menumbuhkan kesadarannya untuk melakukan perubahan terhadap pendidikan itu dengan adanya interaksi yang baik antara mahasiswa dan dosen dengan tujuan yang sama yaitu untuk membangun Indonesia maju dengan SDM yang unggul. Terlihat dengan adanya kemauan secara sadar untuk belajar menggunakan IT dalam proses pembelajaran e-learning dalam jaringan selama pandemi berlaku bagi siswa/mahasiswa dan guru atau dosen untuk menghadapi era new normal dengan melakukan interaksi yang baik yang dapat memberikan manfaat ke depannya untuk membangun Indonesia lebih baik tetapi dilakukan sesuai dengan penerapan protokol kesehatan.

Unsur epistemologi dimana fokus utama dari epistemologi adalah penyusunan komponen-komponen pembentuk sikap terdidik yang dijiwai oleh ajaran agama serta menyusun sistem pendidikan yang baik dan benar serta dedikasi tinggi terhadap pendidikan, maka kecerdasan intelektual yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik setelah melalui pembelajaran dan pendidikan akan dapat terwujud baik dari segi kecakapan, keterampilan dan kreatifitas peserta didik dalam mengimplementasikan Pendidikan agama yang merupakan ciri dan pondasi dari sikap keagamaan.

Perkembangan pendidikan pada era new normal dilihat dari perspektif epistemologi yaitu dosen menyiapkan bahan ajar/ materi ajar setiap akan mengajar secara daring dengan menggunakan aplikasi WA, Google Classroom, Edmodo, Zoom, Google Meet serta Webex. Bahan ajar yang dibuat baik berupa teks, video pembelajaran, powerpoint, materi diskusi dan lain-lain yang dibuat semenarik mungkin untuk memangkas rasa jenuh dari mahasiswa.

Di samping itu, pula siswa/mahasiswa juga menjadi terbiasa menggunakan IT dalam membuat tugas, imajinasi mereka menjadi bertambah dilihat dari hasil karya tugas-tugas mereka yang sangat kreatif, baik tugas membuat poster, mid mapping, video, powerpoint untuk diskusi serta tugas makalah. Semenjak diterapkan era new normal dosen sudah merancang scenario pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Blended Learning. Aksiologis dalam konteks pendidikan adalah etika dan estetika sebagai bagian terpenting dalam pengembangannya. Hal ini bertujuan membentuk kecerdasan emosional seseorang sehingga menjadikannya orang yang tenang dan bijaksana dalam setiap perilakunya, mampu memberikan penilaian dan pilihan terhadap sebuah kebaikan dan kebenaran, serta mampu memilah dan memilih mana yang baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk yang ada diluar dirinya.

Perkembangan Pendidikan pada era new normal dilihat dari pespektif aksiologis yaitu dimana siswa/mahasiswa dan guru atau dosen selalu berupaya untuk mejalankan etika yang baik selama pandemi dengan mematuhi aturan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yaitu dengan selalu memakai masker, membiasakan cuci tangan atau dengan menggunakan hand sanitizer, menyediakan tempat cuci tangan dengan air mengalir, dipergunakannya alat untuk mengecek suhu tubuh serta menghindari kontak fisik (bersentuhan, berjabat tangan). Hal ini terlihat ketika awal penerapan masa new normal tanggal 5 Juni 2020 di beberapa sekolah yang berada di Desa Ngadiluwih, dimana guru sudah mulai bekerja ke sekolah, guru dan siswa selalu memakai masker saat berada di sekolah. Di depan lobby sekoalah disediakan tempat cuci tangan dan sebelum masuk ke ruang kelas dilakukan pengecekan suhu tubuh oleh petugas. Petugas kebersihan selalu menjaga kebersihan lingkungan sekolah dengan menyemprotkan disinfektan yang dilakukan oleh security.

Berdasarkan uraian di atas tentang perkembangan pendidikan dapat dijelaskan bahwa perkembangan pendidikan pada masa new normal jika dilihat dari perspektif ontologi, epistimologi dan aksiologi sangat jelas dirasakan perkembangannya, dari siswa yang belum terbiasa dengan IT karena pandemi harus dibiasakan menggunakan IT serta harus mampu mengaplikasikan semua pelajaran berbasis e-learning dengan mengerjakan tugas-tugas online, kuliah atau sekolah daring. Siswa atau mahasiswa juga dituntun harus kreatif dalam mengerjakan tugas-tugasnya dan semuanya berbasis IT, baik tugas berupa teks, membuat powerpoint untuk diskusi online, membuat poster tentang pendidikan, hingga membuat video. Begitu juga dengan dosen yang biasanya mengajar di dalam kelas menyampaikan materi pembelajaran secara langsung, kini harus selalu menyiapkan materi pembelajaran semenarik mungkin yang semuanya berbasis online, baik itu berupa teks materi, video pembelajaran, rekaman suara, hingga materi berupa powerpoint.

Pada masa pandemi berbagai aplikasi yang mendukung pembelajaran secara online/ daring digunakan oleh guru/dosen dalam mengisi materi misalnya via Whatsapp, Google Classroom, Edmodo, Zoom, Google Meet, Webex dan lain-lain. Pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan besar di segala bidang termasuk di dalamnya adalah dunia pendidikan. Segala perubahan dan perkembangan pendidikan yang terjadi di masa ini akan menjadi kebiasaan untuk menuju hidup yang lebih baik dan bermanfaat untuk membangun bangsa dan negara Indonesia ke depannya. (DEW)

Biografi Penulis

*) Muhammad Roudlotul Mu’izz

Muhammad Roudlotul Mu’izz, seorang mahasiwa aktif program studi Psikologi Islam semester enam di IAIN Kediri. Selain menjadi seorang mahasiswa, penulis juga mengikuti beberapa organisasi antara lain: Remaja Masjid Besar DAARUL JAALAL Ngadiluwih (ketua)  IPNU/IPPNU Ngadiluwih (bendahara), FMBM IAIN KEDIRI (Wakil Ketua), UKM DEDIKASI IAIN KEDIRI (pengurus), UMKM Kelud Mandiri (Anggota), MULIA EDUTAINMENT (Trainner),   MULIA STUDY CLUB (Tutor). Untuk mengenal lebih jauh tentang penulis dapat menghubungi e-mail pribadinya muizzmuhammad7@gmail.com

About author

No comments

Angan, Harapan, dan Keyakinan

Suatu hari selalu terdapat perasaan mengharapkan sesuatu baik itu hal kecil, ataupun besar, sedikit ataupun banyak, sempit ataupun luas dan sebagainya. Tidak ada perbedaan umur, ...