KETERBATASAN INTERAKSI MEMBAWA PERDAMAIAN HIDUP PARA SANTRI

0

Masa pandemi Covid-19 sekarang ini membuat seluruh masyarakat diharuskan lebih sering melakukan banyak aktivitas di dalam rumah agar tidak banyak interaksi yang dilakukan dengan orang di luar. Demikian pula dengan para santri di pondok pesantren Al-Amien Ngasinan Rejomulyo Kota Kediri dengan adanya pandemi seperti sekarang ini para santri tidak diperbolehkan keluar atau dilarang keras untuk keluar area pondok kecuali jika benar-benar ada kegiatan yang begitu mendesak atau dirasa sangat penting, karena keadaan inilah interaksi dengan masyarakat luar begitu terbatas. Penjagaan ketat dilakukan agar meminimalisir adanya santri yang keluar pondok, tidak ada wali santri yang diperbolehkan memasuki area pondok untuk menjeguk, sowan, dan lain sebagainya bahkan ketika santri mendapat sebuah kiriman atau paket dari rumah pun hanya boleh dititipkan ke pos penjagaan yang telah disediakan, semua gerbang ditutup dan dikunci kecuali gerbang utama dengan diharapkan mempersempit angka penularan Covid-19 di dalam lingkungan pondok pesantren, itu semualah yang membuat interaksi santri dengan masyarakat luar amat sangat terbatas.

Sebelum adanya virus korona ini para santri biasa beraktivitas diluar untuk bersekolah atau kuliah karena para santri disini sebagian besar sekolah dan kuliah di luar area pondok dengan begitu para santri bebas berbaur dengan masyarakat sekitar area pondok yakni tepatnya di Desa Ngasinan Rejomulyo Kota Kediri. Banyak sekali aliran-aliran Islam yang tersebar di daerah tersebut seperti Nahdlatul ulama’, Muhammadiyah, LDII, Akhmadiyah, dan masih banyak lagi yang lainnya sehingga para santri pun bebas bergaul dengan mereka. Namun, dengan keadaan seperti sekarang ini interaksi tersebut menjadi lebih terbatas sehingga keadaan yang aman damai pun dirasakan, tidak ada sesuatu hal yang mengusik ataupun terjadi sebuah problem dengan masyarakat dari berbagai aliran-aliran seperti yang disebut di atas. Sudah jelas diketahui notaben seorang santri dididik di pondok pesantren untuk membentuk perdamaian, saling menghargai satu sama lain sehingga dengan begitu terdidiklah jiwa-jiwa yang selalu hidup rukun dan mencintai sebuah perdamaian.

 Ketika sebelum adanya pandemi Covid-19 seperti sekarang inipun para santri berbaur bebas dengan masyarakat, namun mereka juga bisa hidup dengan penuh toleransi karena memang sudah terdidik menjadi pribadi yang cinta akan perdamaian. Hal yang perlu diteladani dalam kondisi pandemi seperti ini adalah tetap menjadi pribadi yang kuat meskipun dalam hal apapun jangan mudah terkecoh dan terhasut dengan keadaan yang terjadi, berusaha tenang dan jangan gegabah dalam mengambil keputusan.

Pendiri dan pengasuh pondok pesantren Al-Amien yaitu K.H. M. Anwar Iskandar adalah seorang anggota FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) di Kota Kediri. Dengan begitu juga merupakan hal yang sangat tercermin untuk para santri atau murid-muridnya terdidik menjadi seseorang yang taat agama namun tetap saling menghargai dengan aliran Islam yang lain maupun dengan orang yang beragama lain sekalipun. Karena seorang santri atau murid pasti tidaklah jauh dari sang pendidik atau pengajarnya.

Suatu ketika pernah diadakan acara atau perkumpulan antar umat beragama yang dilaksanakan di pondok pesantren Al-Amien yang didatangi oleh wakil walikota Kediri yaitu Lilik Muhibbah sebagai pembuka acara sarasehan merajut kerukunan antar ummat beragama. Dalam acara tersebut dihadiri oleh para pengurus FKUB, paguyuban antar umat beragama (PAUB), jajaran dinas terkait serta ketua RW dan ketua RT se-Kota Kediri. Beberapa prestasi kota dapat diraih namun itu semua tidaklah lepas dari kondusifnya Kota Kediri. Dengan adanya peran serta jajaran pengurus FKUB  dan PAUB menjadikan masyarakat kota kediri menjadi rukun. “Saya melihat kota ini sungguh luar biasa, ada delapan pemeluk agama hidup berdampingan, tetapi tidak pernah ada gejolak,” kata Lilik Muhibbah selaku wakil wali kota Kediri yang akrab disapa Ning Lik. Ning Lik mengaku teringat terhadap kata-kata Gus War atau K.H. M.Anwar Iskandar yaitu pengasuh pondok pesantren Al-Amien yang mengistilahkan ‘rujak’ terhadap adanya perbedaan keyakinan antar umat beragama di Kota Kediri, istilah tersebut memiliki makna sebuah perbedaan justru menjadi sesuatu yang sangat indah. “Rujak kalau dimakan satu-satu, misalnya mentimunnya saja atau nanasnya saja tentu rasanya kurang enak, tetapi ketika dimakan bersama-sama atau dicampur menjadi satu pasti rasanya lebih enak ketika disantap. Begitu juga dengan perbedaan ini,”tutur K.H. M. Anwar Iskandar. Oleh karena itu, pimpinan muslimat NU Kota Kediri berharap agar kebersamaan yang telah terjalin bisa dijaga bersama-sama mengingat dengan kebersamaan dan kerukunan ini laju inflasi di Kota Kediri dapat ditekan hingga mencapai 1,7 persen, jauh lebih rendah dari inflasi tingkat nasional dan juga Jawa Timur. Selain laju inflasi yang dapat ditekan kesejahteraan sosial juga bisa diperbaiki, kemudian angka kemiskinan di Kota Kediri pun juga bisa menurun, dengan keadaan yang rukun seperti ini diharapkan dari tahun ke tahun ke depannya akan semakin baik lagi.

Dengan adanya hal seperti ini menjadikan santri juga terinspirasi untuk menjadi pribadi yang terbiasa hidup rukun di dalam lingkungannya nanti karena dari pengasuh pondok pesantren sendiri pun juga merupakan tokoh forum antar kerukunan antar ummat beragama sehingga sudah pasti akan tercermin untuk para santri atau murid-muridnya. Dari lingkungan Kota Kediri sudah jelas terlihat bahwa kerukunan telah tercipta, jarang ada problem atau masalah yang terjadi yang mengakibatkan sebuah pertengkaran atau pertikaian. Jadi, tidak salah lagi jika santri di pondok pesantren Al-Amien pun terbiasa hidup rukun, aman, damai apalagi dalam suasana pandemi.

Para masyarakat yang berada di sekitar lingkungan pondok pesantren meskipun mereka berbeda- beda aliran mereka juga amat sangat menghargai satu sama lain. Dapat kita rasakan bahwasannya dengan adanya virus korona ini banyak sekali kerugian yang kita dapatkan seperti ketika lebaran tidak bisa mudik ke kampung halaman, banyak sekali peraturan baru yang perlu diterapkan seperti protokol kesehatan dan lain sebagainya. Namun, di balik itu semua Allah juga menurunkan banyak nikmat yang bisa kita rasakan bersama yaitu diantaranya seperti kedamaian antar masyarakat yang berbeda aliran tersebut dan mungkin masih banyak lagi yang lainnya, patutnya kita semua haruslah bersyukur dengan adanya kejadian-kejadian ini dan berusaha mengambil hikmah dari apa-apa yang terjadi jangan selalu mengeluh dan bahkan mudah berputus asa atau malah tidak mau berbuat apa-apa.

Dalam hidup bermasyarakat nanti hendaknya kita harus memiliki banyak bekal karena sudah pasti akan bertemu dengan banyak orang yang memiliki kepribadian, sifat, dan pemikiran yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pondok pesantren juga merupakan wadah yang tepat untuk melatih sebuah kepribadian yang bisa melatih hidup bertoleransi  terhadap banyak orang. Banyak pengalaman-pengalaman yang pasti akan didapatkan di dalamnya karena telah terbiasa hidup bersama dengan orang banyak dan semua itulah cerminan hidup di masyarakat nantinya. Dan seorang santri pun juga sudah dididik sejak awal untuk menjadi pribadi yang sederhana dan hidup bersama-sama. Sudah pasti diketahui bahwasannya pada zaman sekarang ini banyak sekali aliran-aliran yang bermunculan, banyak kelompok dan golongan yang berusaha untuk mengajak dan menghasut banyak orang agar ikut dalam aliran mereka, bahkan terkadang setelah diamati aliran atau golongan tersebut pun ajarannya melenceng dari hukum dan peraturan sebenarnya. Hal-hal yang seperti itulah yang menjadikan timbulnya sebuah persoalan dan bahkan juga pertengkaran karena setiap orang pasti berbeda dalam menyikapi sebuah kejadian.

Sebagai seorang yang memiliki ilmu pengetahuan hendaknya kita harus bisa menyikapi hal tersebut dengan bijaksana, tidak perlu terhasut dan tergerak untuk ingin ikut di dalamnya. Namun, juga harus bisa memahami dan juga menoleransi hal-hal seperti itu jangan asal menyalahkan dan menganggap diri kita yang paling benar karena setiap orang pasti memiliki keyakinan dan juga ajaran mereka masing-masing yang belum tentu sama dengan apa yang kita anut dan pelajari. Pada intinya adalah ciptakan hidup damai dengan cara tidak saling menyalahkan satu sama lain. (EN)

PROFIL PENULIS

*) Ni’matul Inayah

Ni’matul Inayah merupakan mahasiswi Studi Agama-Agama IAIN Kediri.

About author

No comments