MANAJEMEN KRISIS: RANCANG-BANGUN HADAPI PANDEMI

0

Tulisan ini adalah hasil kontemplasi ilmiah. Bentuk kepeduliaan terhadap nasib bangsa yang terhempas ruah. Semua orang mendadak jadi jahat, karena pandemi effect termasuk juga kepemimpinan sekolah. Beberapa alat berpikir yang kami sadur adalah Barton, L. (1993). Terrorism as an international business crisis. Management Decision; Maulin Purwaningwulan, M. (2013). Public Relations dan Manajemen Krisis; Murfi, A., Fathurrochman, I., Atika, A., & Jannana, N. S. (2020). Kepemimpinan Sekolah dalam Situasi Krisis Covid-19 di Indonesia.

Hampir setahun dunia dilanda penyakit akut pandemi Covid-19. Wabah yang bermula dari kota Wuhan, Tiongkok Selatan ini telah menyulap tatanan normal kehidupan manusia menjadi mengerikan. Kejadian luar biasa yang tergolong kepada bencana non alam ini, diluar prediksi banyak pengamat. Seluruh sektor kehidupan terdampak, termasuk dunia pendidikan. Hal ini menimbulkan krisis pada sekolah-sekolah di negara kita. Jika selama ini sekolah merupakan tempat berlangsungnya proses pembelajaran secara tatap muka (offline), maka sekarang fungsi itu mendadak berubah. Perubahan mendadak inilah yang disebut dengan “krisis”, seperti yang dijelaskan oleh Barton (1993): “Sebuah krisis adalah peristiwa besar yang tidak terduga yang secara potensial berdampak negatif terhadap organisasi dan publiknya”.

Imbasnya, sekolah harus siap menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi masa normal baru (new normal) sesuai dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan program ‘belajar di rumah’. Dalam konteks kepemimpinan sekolah, masa ini disebut dengan “manajemen krisis” dimana siap atau tidak siap kepala sekolah harus mampu beradaptasi. Manajemen krisis, menurut Murfi (2020) yaitu proses mempersiapkan dan mengelola situasi darurat atau tidak terduga yang mempengaruhi siswa, guru,staf dan pemangku kepentingan. Manajemen krisis berbeda dengan manajemen resiko, yang mengharuskan kepala sekolah untuk menilai potensi ancaman dan menemukan cara terbaik untuk menghindari ancaman tersebut. Dalam manajemen krisis,ancaman ini sudah terjadi dan harus siap dihadapi.

Kemampuan sekolah dalam melalui transisi maupun transformasi sangat ditentukan oleh kompetensi kepala sekolah yang peka terhadap krisis. Kepala sekolah lebih awal menyadari tentang berbagai potensi yang dapat mengganggu aktivitas organisasinya. Kepala sekolah perlu mengelola krisis secara efektif dan efisien dengan cara  memberi arahan dan membentuk tim manajemen krisis. Tim manajemen krisis dapat terdiri dari beberapa orang stakeholder sekolah seperti guru, tata usaha dan juga pihak komite. Tim manajemen krisis bertugas membantu sekolah menghadapi krisis dalam bidang pembelajaran daring.

Manajemen krisis bagai dewa bagi dunia pendidikan, terutama untuk menemukan formula manajemen kepemimpinan. Kendala seperti seperti pembelajaran daring, diantaranya kurangnya kompetensi guru menggunakan media pembelajaran berbasis IT, terbatasnya sarana dan paket data yang dimilki guru dan siswa, serta kurangnya dukungan orangtua terhadap kegiatan belajar anak dirumah. Untuk mengatasi hal ini diperlukan seorang kepala sekolah yang mampu mengelola tim manajemen krisis untuk memberikan edukasi terhadap guru, siswa dan orangtua siswa.

Sesuai penemuan lapangan pada sumber yang penulis sebutkan diatas, terdapat tiga tahapan dalam meng-riilkan manajemen krisis pada masa pandemi, yaitu: 1) Before the Crisis, ini merupakan tahapan saat krisis belum terjadi. Pada tahap ini kepala sekolah bersama tim manajemen krisis melakukan persiapan dengan mengarahkan berbagai pihak (guru, siswa dan orangtua) agar mengetahui hal-hal yang dilakukan ketika terjadi krisis. Contohnya: dengan memberikan edukasi literasi dan pemahaman tentang cara pencegahan Covid-19 sesuai dengan protokol kesehatan. 2) During the Crisis, merupakan tahapan saat krisis sudah terjadi. Kepala sekolah mulai melibatkan pihak-pihak untuk mengatasi krisis yang sedang menimpa instansi. Contohnya, dalam meningkatkan kompetensi guru mempersiapkan pembelajaran daring. Kepala Sekolah dapat mengadakan pelatihan untuk guru dengan mendatangkan narasumber yang berkompeten untuk melatih guru. Tentunya pelatihannya juga berbasis online mengikuti kebijakan work from home. 3) After the Crisis, merupakan tahapan terakhir ketika krisis telah terjadi.

Sehubungan dengan akan berlakunya tatanan hidup baru atau yang dikenal dengan ‘New Normal’, maka sekolah perlu mempersiapkan langkah-langkah menghadapi tatanan ‘normalisasi keabnormalan’ tersebut; Langkah awal pada tahap After the Crisis dalam pengelolaan manajemen krisis adalah penyiapan Tim Gugus Tugas dan Sapras New Normal satuan pendidikan. Adapun tugas dari Tim ini adalah: 1) Menyususn uraian tugas dan pola/mekanisme kerja, 2) Menyiapkan sarana prasarana sesuai protokol Covid-19, 3) Melakukan simulasi pelaksanaan pembelajaran New Normal, 4) Melaporkan kesiapan sekolah melaksanakan New Normal.

Sesuai dengan surat Edaran Sesjen No.15/2020 dan KMKRI No.HK.01.07/Menkes/328/2020 pelaksanaan PBM pasca PSBB (New Normal) dapat dilakukan dalam tiga bentuk yaitu: 1) Sistem mingguan GANJIL-GENAP, 2) Sistem Kelompok Mata pelajaran Belajar Dari Rumah (BDR)-Tatap Muka (TM), 3) Sistem shift. Pada tahap ini sekolah perlu mengelola krisis yang ada dengan mempersiapkan sarana prasarana sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Semua hal itu dapat dikelola dengan baik jika seorang kepala sekolah memiliki sifat Kepemimpinan Krisis (crisis leadership). Kepemimpinan krisis berfungsi menjelaskan apa yang dapat dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan untuk meminimalkan dampak krisis atau bencana yang sedang terjadi. Kita berharap dengan adanya manajemen krisis sebuah sekolah,semua hal yang menjadi kendala dapat teratasi dengan baik. Salam… (@D)

Trigina Nova Yolanda*

Trigina Nova Yolanda*

*Trigina Nova Yolanda, Sufyarma Marsidin, Demina adalah Guru Fisika SMAN 2 Solok sekaligus Mahasiswa dan Dosen Pascasarjana IAIN Batusangkar (Email: triginanovayolanda1980@gmail.com)

About author

No comments