Menengok Kisahku di Masa Kecil – Flash Fiction (Cerita Kilat)

1

Ketika hujan turun, aku duduk termangu di teras rumah sembari menyaksikan anak tetangga yang sedang asik bermain hujan-hujanan bersama temannya. Sontak pikiranku tempias pada masa kecil, kenangan yang akan selalu teringat sepanjang waktu. Anugerah Allah memberikan pengalaman yang begitu mengesankan.

Masa kecilku bisa dibilang sangat bahagia tanpa beban hidup. Masa kecil adalah waktu dimana aku bebas untuk menunjukkan kesedihan dan kebahagiaan. Ketika ingin menangis, aku langsung menangis tanpa berpikir panjang untuk melihat kondisi atau melihat tempat. Waktu aku menangis, hanya pelukan seorang ibu yang mampu membuat air mataku.

Kalau sekarang mau sedih seperti apapun kalau bisa tetap harus terlihat tertawa di depan orang tua. Kalau mau nangis ya di kamar tidur atau di kamar mandi. Tapi, terkadang aku merasa tidak dapat menyembunyikannya. Apa kamu juga sepertiku?

Ok lanjut… Waktu masih duduk di bangku TK aku anaknya tidak rajin, hobi banget sama yang namanya jelajah.  Walaupun berjelajah tapi menuntut ilmu tetap wajib. Satu lagi, tidak lupa sekolah dan TPA. Sekolah TK dan MI dekat dengan TPA, depan MI adalah TPAku. Jadi kegiatanku hanya sekolah, bermain dan pergi TPA di sore hari.

Permainan Engrang

Setiap pulang sekolah aku ganti baju dan makan siang, kemudian langsung bermain dengan teman-teman di desa. Temanku kebanyakan memang laki-laki. Aku bermain dengan permainan tradisional seperti bermain lompat tali, petak umpet, layangan, bola bekel, kelereng, lompat tali, gobak sodor dan masih banyak lagi. Mungkin semuanya udah pernah aku coba. Coba kalian sebutin apa saja permainan tradisional? InsyaAllah udah aku coba semua deh, aku puas dengan masa kecilku yang bisa merasakan permainan tradisional begitu menyenangkan.

Walaupun bermain tidak mengenal kata lelah, belajar adalah tugasku yang tak terlupakan. Ketika duduk di bangku TK, aku adalah sosok anak penakut yang tidak berani sekolah sendiri. Teringat waktu acara perpisahan untuk naik ke tingkat SD banyak badut. Mungkin, menurut kebanyakan orang badut itu lucu. Jadi, guruku membuat acara menarik dengan adanya badut.

Dengan berjalannya waktu membawaku melanjutkan sekolah ke tingkat SD, aku masih belum bisa membaca dengan lancar dan kurang percaya diri. Sehingga, waktu bermain harus berkurang dan lebih banyak belajar membaca. Melalui kesabaran dan ketelatenan ibu selama mengajariku. Akhirnya, aku bisa membaca dengan lancar dan baik. Walaupun mungkin teman-teman yang lain bisa membaca lebih dulu dibandingkan denganku. Aku yang saat itu sudah bisa membaca, tetapi ibu masih merasa khawatir karena aku masih menjadi anak penakut yang tidak berani sekolah sendiri. Ibuku berpikir, jika nanti waktu duduk di bangku SD ibu masih harus menunggu dan menemaniku.

Ilustrasi Prestasi

Tetapi atas izin Allah, ketika kakiku menginjak ke tingkat SD aku menjadi anak pemberani dan berprestasi . Tidak menyangka bisa mendapatkan ranking 1 berturut-turut dan lulusan dengan nilai kategori tertinggi.. Anugerah dari Allah yang diberikan kepadaku di masa kecil semoga bisa diambil hikmahnya untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Kesimpulannya, hikmah dari ulasan masa kecilku ialah mungkin terkadang kita merasa tidak mampu mewujudkan harapan dan tidak percaya dengan kemampuan kita sendiri. Lupa, bahwa Allah Maha Memberi. Termasuk, memberi harapan-harapan baru yang akan terwujud. Kita mampu karena Allah memberi kemampuan jika kita mau berusaha.

Penulis : Imroatun Nur Kholifah

Mahasiswa Semester 7 PAI IAIN Kediri

Imroatun Nur Kholifah

About author

1 comment

  1. Noe Hidayatul Laily 5 November, 2020 at 13:07 Balas

    Bagus sih ceritanya . Mungkin tanda baca lebih diperhatikan saat penulisan. Agar lebih enak dibacanya
    Thank you

Post a new comment

Candu Akara

Dwidasawarsa telah terpaut Kenestapaan terlalu cepat merenggut Jamanika melilit tangan tuk gapai yang tak patut Pun jamanika menjulur tuk menyulut Menyulut kobaran akara Sejatinya hanya ...