PEREMPUAN DI ZAMAN PRA-ISLAM

0

Islam datang menjadi sebuah penerang bagi seluruh umat manusia. Islam menjadi pondasi dari bangunan yang terkikis dan hampir hancur karena akhlak yang sangat rusak. Sebelum Islam datang, Bangsa Arab berada pada kondisi yang begitu memprihatinkan.hingga disebutlah dengan zaman jahiliyah (kebodohan).

Makna bodoh di sini yaitu Bangsa Arab pada zaman itu sudah mengenal arti Tuhan. Namun, mereka banyak yang menyekutukan Allah SWT. Mereka lebih memilih menyembah Tuhan dengan cara yang salah. Mengapa salah? Karena yang mereka sembah adalah batu-batu yang dibentuk menjadi sebuah berhala (patung),  binatang, bintang, ataupun  pohon.

Mayoritas bangsa jahiliyah menyembah berhala. Ada tiga berhala terbesar yaitu latta, uzza, dan manna. Pada zaman itu, menyembah patung tersebut adalah ritual yang selalu dilaksanakan oleh setiap orang. Mereka mendirikan sendiri patung-patung itu untuk disembah setiap waktu. Penyembahan dilakukan dengan cara mengusap-usap patung sebelum maupun sesudah berpergian. Tidak hanya itu, mereka juga akan mengganti patung-patung tersebut dengan batu yang baru.

Di sisi lain, dalam kondisi tersebut seorang penyair adalah orang yang sangat dihormati. Syair merupakan suatu karya seni yang sangat dihargai dan dimuliakan. Mereka akan membela kabilahnya dengan syair yang indah melebihi seorang pahlawan. Apabila ada seorang penyair baru dari suatu kabilah, maka kabilah lain akan berbondong bondong berdatangan dan mengucapkan selamat. Mereka juga akan mengadakan pesta makan dan memyembelih binatang-binatang. Namun, akan jauh berbeda jika kita sedikit bergeser untuk menyoroti nasib perempuan pada zaman itu.

Bagaimana nasib perempuan pada zaman itu? Pada zaman itu, perempuan ditindas dan diperlakukan dengan sewenang-wenang. Perempuan hanya bertugas melayani laki laki dan harus siap kapanpun dibutuhkan. Perempuan menjadi lambang aib bagi keluarganya. Memiliki anak perempuan adalah suatu kehinaan.

Seperti kisah Khalifah Umar r.a. sebelum beliau masuk Islam. Diceritakan bahwa Khalifah Umar  pernah memgubur anak perempuannya hidup-hidup. Seperti Firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 58-59:

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya.”

“Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”

Perempuan yang hidup pada zaman pra-Islam ini hanya akan menadi pemuas nafsu laki-laki. Mereka dilarang untuk keluar rumah. Perempuan hanya diperkenankan untuk beraktifitas di dapur, mencuci pakaian, dan pemuas saat malam hari.

Tidak heran jika kita sering mendengar persepsi bahwa tugas perempuan hanyalah masak, macak, manak (memasak, berhias, dan memberi anak). Bahkan, pada zaman tersebut, anak perempuan diizinkan melayani bapaknya sendiri. Jika dia adalah seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya, maka anak laki lakinya boleh menikahinya jika dia mau. Sungguh memprihatinkan.

Tidak hanya itu, pada zaman tersebut juga banyak dipraktikkan pola-pola perkawinan, diantaranya istidla, poliandri, maqhtu, badal, dan shighar.

Istidla, yaitu seorang suami meminta kepada istrinya untuk berjimak dengan laki-laki lain yang memiliki kelebihan seperti kecerdasan dan  keberanian. Tujuan perkawinan ini adalah agar istri melahirkan anak yang memiliki sifat dari laki-laki lain yang tidak dimiliki oleh suaminya.

Poliandri, yaitu beberapa laki-laki yang berjimak dengan seorang perempuan. Bila perempuan itu hamil, maka dia akan memanggil semua laki laki yang pernah berhubungan dengan dia. Memberitahukan bahwa dia hamil kemudian menunjuk salah satu laki laki itu  dan tidak boleh menolak.

Maqhtu, yaitu seorang laki-laki menikahi ibu tirinya setelah bapaknya meninggal. Namun, jika anak laki laki tersebut masih kecil maka harus menunggu hingga dewasa. Dan ketika anak tersebut dewasa, dia berhak memilih tetap melanjutkan menjadikan istri atau melepaskanya.

Badal, yaitu  tukar-menukar istri tanpa ada kata cerai yang bertujuan hanya sebatas untuk menghilangkan kebosanan dan memuaskan nafsu.

Shighar, yaitu seorang wali menikahkan anak atau saudara perempuanya kepada seorang laki-laki tanpa mahar.

Selain itu, ada juga bentuk perkawinan lain seperti meminta menikahi saudara perempuan atau budak dengan bayaran tertentu mirip dengan kawin kontrak. Ada juga yang dilakukan para pendatang dengan mengibarkan bendera untuk memanggil para wanita.

Sungguh memprihatinkan kondisi perempuan pada masa itu. Mereka diibaratkan dengan kotoran yang patut dihina dan diinjak-injak. Perempuan dianggap sebagai suatu aib bagi siapa saja yang memilikinya. Hak-hak perempuan pun diabaikan dan diganti dengan pelecehan seksual. Bukankah firman Allah:

أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain (QS Ali Imran : 195).

Seharusnya tidak boleh ada perbedaan antara laki-laki maupun perempuan. Kedudukan mereka harusnya sama, hak-hak mereka harusnya sama-sama terpenuhi. Bukankah memuliakan yang satu dan yang satu lagi dihina adalah suatu tindakan yang tidak benar?

Sebelum Islam datang perempuan adalah kotoran. Mereka membutuhkan seseorang yang mau mengumpulkan dan mengubah mereka menjadi berlian. Mereka membutuhkan seseorang yang mau memperjuangkan hak-hak mereka yang diabaikan. Mereka membutuhkan seseorang yang mau mengubah para muka masam menjadi binar bahagia ketika bayi perempuan terlahir ke dunia. Dan mereka juga membutuhkan seseorang yang mau menjadikan perempuan sebagai manusia yang patut untuk dihormati dan diberi kasih sayang. Kini, perempuan telah berada pada kondisi yang jauh lebih baik. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan pun sudah tidak ada. Kini, hak-hak perempuan yang dulu diabaikan, sekarang sudah dipedulikan. (EN)

Biografi Penulis

Lilik Maesaroh

Lilik Maesaroh seorang mahasiswi yang lahir di Ponorogo pada bulan Agustus. Untuk mengenal lebih jauh tentang penulis dapat menghubungi e-mail lilikmaesaroh364@gmail.com.

About author

No comments

Sistem Pembelajaran Daring

Sejak awal tahun 2020, Covid-19 menjadi pembicaraan yang tiada habisnya. Di belahan bumi manapun, Covid-19 masih mendominasi pembicaraan di ruang publik. Dalam waktu singkat saja, ...