Pesan Terakhir Alm. Bapak Nur Akhlis (Dosen IAIN Kediri) Telah Menyadarkanku Bahwa yang Muda yang Tak (Seharusnya) Mengeluh

0

Saat itu, akhir Maret 2020; mendung bergelayut di atas kampus IAIN Kediri. Awan hitam pekat kali ini terasa berbeda dikarenakan membawa butiran kesedihan, kesedihan akan kehilangan sosok sahabat sekaligus panutan. Hari itu, segenap sivitas akademika dikejutkan dengan berita kepergian salah seorang dosen IAIN Kediri, Bapak Nur Akhlis (allâhu yarham); almarhum meninggal dan terkonfirmasi positif COVID-19 saat mengikuti pelatihan petugas haji di Surabaya. Degup jantung kampus seolah terhenti, tergantikan oleh bising suara notifikasi WhatsApp yang berisi ucapan belasungkawa.

Di tengah perasaan sedih yang begitu mendalam dan rasa tak percaya, saya membuka laman Facebook almarhum, sekadar ingin melihat dan menyapa beliau meski hanya dalam selembar foto. Tetiba saja jemari ini terhenti pada sebuah postingan berpaut tanggal yang tak terlalu lama dari hari kepulangan beliau kepada Sang Pencipta. Postingan singkat itu berbunyi, “Pemenang Selalu Bersyukur, Pecundang Selalu Mengeluh”. Meski telinga ini begitu akrab dengan ungkapan tersebut, namun kali ini terasa lain; seolah-olah almarhum sedang memberi pesannya yang terakhir. Pesan ini terasa begitu menohok karena entah sudah berapa ribu kata keluhan mengalir dari mulut saya terhadap situasi kampus.

Teringat pada tahun 2015 silam, saya mengawali tugas di IAIN (dulu masih STAIN) Kediri dengan seabrek idealisme yang tinggi dan sempurna. Saya kerap membanding-bandingkan kondisi kampus dengan tempat kerja terdahulu; saya memimpikan sebuah kondisi kampus yang ideal dan kamil: kampus yang hijau, ruangan kerja yang nyaman, ruang kelas yang sejuk, toilet yang bersih dan wangi, budaya kerja yang terbuka dan egaliter, administrasi yang tertata rapi dan transparan—semuanya tertanam kuat dan saya jadikan standart pada diri saya. Akan tetapi, realitas kampus yang tak sesuai dengan idaman kerap berakhir dengan keluh kesah, entah pada diri sendiri ataupun rekan sejawat. Suara-suara sumbing dan pesimis berbalut komparasi dengan kemajuan kampus tetangga semakin menambah kegundahan.

Akan tetapi, setelah membaca postingan almarhum di atas membuat diri ini tersadar bahwa semua itu salah dan tidak tepat. Tak sepantasnya diri ini berlarut dalam keluh kesah, apalagi menertawakan, rumah sendiri, malu rasanya. Saya seharusnya bersyukur atas segala yang sudah tersaji karena semua itu adalah anugerah; keterbatasan tidak seharusnya jadi tali kekang tapi cambuk menuju ke arah yang lebih baik. Tidakkah sejarah telah membuktikan bahwa dari keterbatasan dan kesempitan lahir manusia-manusia hebat yang mampu mengubah jalan peradaban. Sejak saat itu terpatri pada diri ini untuk berhenti mengeluh tanpa berbuat sesuatu, sekecil apapun itu. Tak terasa, optimisme kian membuncah dan hadir mengiringi semangat untuk berbenah dan mempersembahkan sesuatu demi kampus tercinta, tentu dalam batas kapasitas dan kemampuan diri.

Optimisme ini semakin membuncah tatkala melihat dinamika kampus yang semakin hari semakin menggeliat menunjukkan keberadaannya. Gedung-gedung megah sudah berdiri, infrastruktur semakin terlengkapi, tak mau kalah animo mahasiswa juga semakin tinggi dan prestasi demi prestasipun terengkuhi, dosen-dosen muda berkualitas berdatangan tiada henti, skill-skill terus menerus terbenahi; dan doktor-doktor baru berlahiran. Yang paling menggembirakan adalah tatkala diri ini melihat dan merasakan semangat tinggi kaum muda kampus yang bergerak dengan ragam inovasi.

Jare (Jamaah Reboan) Institute, misalnya, mengawali langkahnya dengan mengisi ruang-ruang diskusi dan menghidangkan wacana keilmuan yang mencerahkan. Akademi Pesantren Nusantara (Aksara) hadir menghidupkan kembali khazanah kepesantrenan melalui tulisan-tulisan. Tiongkok Centre mulai merintis upaya mendalami studi-studi ketimuran. Laboratorium di fakultas-fakultas juga terus melangkah pasti mencari distingsi. Lingkar-lingkar studi mulai menjamur di setiap prodi baik lama maupun baru. Masing-masing unit di kampus juga terus giat menggali potensi diri. Tentu saja masih banyak lagi kiprah sivitas akademika—baik di level kelembagaan maupun individual, di dalam maupun luar kampus—yang membuat penulis semakin yakin bahwa angin perubahan sedang memihak pada kampus yang usianya sudah setengah abad ini.

Syakal (Syiar Karya Literasi), sebuah portal digital yang lahir dari inisiatif Perpustakaan IAIN Kediri, semakin menambah semarak giat literasi yang tengah mewabah. Kehadiran portal digital ini patut disambut dengan suka-cita oleh semua elemen kampus. Peran perpustakaan memang seyogyanya tidak membatasi diri pada koleksi-koleksi buku, melainkan juga proaktif menggerakkan budaya literasi melalui publikasi maupun kegiatan-kegiatan ilmiah. Jika menoleh ke masa lampau, kita pasti ingat bagaimana perpustakaan menjadi embrio bagi kelahiran institusi Bait al-Hikmah yang menjadi jantung “The Golden Age of Islam” selama pemerintahan dinasti Abbasiyah. Zaman ini menandai puncak kejayaan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam dengan bertumpu pada tiga peran utama yaitu perpustakaan, penelitian, dan penerjemahan. Era ini juga menjadi saksi ketika masjid tidak melulu berfungsi sebagai tempat ibadah tapi juga menjadi ruang-ruang dialog keilmuan. Zaman ini memang sudah berlalu, tetapi semangatnya tetap tak boleh lekang oleh waktu; aromanya harus terus tercium meski tak musti semerbak dahulu.

Maka ketika diminta untuk menulis di Syakal, saya tanpa ragu meng-iya-kan. Dengan konsistensi dan passion yang terus terpompa, saya yakin sekali Syakal bakal menjelma sebagai ujung tombak gerakan literasi kampus yang bisa berbicara banyak di jagat maya, serta menghembuskan wewangian kampus. Syakal adalah sebuah terobosan dan saya ingin menjadi bagian dari sesuatu yang hebat ini. Keberhasilan bukan kerja sekejap tapi buah dari karya-karya kecil yang terus diruwat, pastinya dengan dukungan dan sinergi dari pelbagai pihak. Ibarat sedang menggergaji pohon, kata Kyai Hutan, “Pohon berhasil rubuh bukan karena tebasan terakhir, tapi akumulasi dari semua gergajian yang dilakukan.”  Wallâhu’alam. Salam… (EN)

Maufur*

Maufur*

*Maufur adalah Dosen Prodi Studi Agama-Agama (SAA) IAIN Kediri

About author

No comments