MELIHAT POTRET MODERASI DALAM SISI PENDIDIKAN

0

Survey menunjukkan tingkat toleransi orang muslim terhadap non muslim tergolong cukup baik yakni berada di 40-58% per 100% tentunya angka ini menunjukan kabar baik bahwa antara muslim dan non muslim dapat hidup berdampingan secara damai, melakukan semua aktivitas dengan aman dan tanpa rasa takut. Kemudian, muncul pula survey yang mempertanyakan apakah bias kepala daerah atau setingkat RT di negara yang mayoritas muslim dipimpin oleh pemimpin yang non muslim? Hasilnya cukup mengejutkan, ternyata pada kenyataannya sangat bias dan mungkin, banyak contoh daerah yang kepala daerahnya non muslim tetapi ritme sosialnya tetap baik-baik saja tidak ada halangan yang berarti ataupun halangan yang memberatkan dalam melakukan aktivitas sosial maupun keagamaan.

Ulasan demikian menggiring kita kepada istilah moderat. Jadi, sebenarnya apa itu moderat? Moderat didefinisikan sebagai kegiatan melakukan sesuatu dengan batas yang masukakal, sejuk, cenderung ke tengah, tidak menggunakan kekerasan. Lalu moderat, wasatiah noun memiliki pengertian gagasan yang mengandung arti di tengah tidak condong antara kanan dan kiri. Di dalam hal agama moderat berarti jangan berlebih-lebihan dalam beragama.  Umat Rasulullah seharusnya dapat adil dan memposisikan agama secara baik tidak berlebihan dalam pengamalan seperti umat-umat terdahulu. Namun, walau begitu berbicara soal moderat adalah berbicara soal kebijaksanaan yang terus berubah sesuai zaman dan konteksnya bukan hanya moderat antar agama tetapi juga antar budaya, antar ideologi dan berbagai hal yang terus berkembang dan harus disikapi dalam setiap zaman.

Di dalam hal ini jika umat Nabi Muhammad SAW disebut ummah yang wasatha’ dan ummah muqtasida ditujukan pada ummat al-kitab dibuktikan dengan surat ke lima dalam al-Quran ayat ke-66. Jika terus di tarik ke dalam  jadi siapa yang moderat ? Semua mengklaim moderat dan sebagian lagi saling tuduh liberal, ISIS dan semacamnya. Moderat adalah mereka yang membuktikan secara benar dalam sikap dan tindakan baik individu atau organisasi dengan sikap yang adil menengahi segala persoalan. Jadi, sah-sah saja jika semua orang mengaku moderat asalkan dapat bertanggung jawab atas apa yang mereka klaimkan.

Maqosid syariah yang banyak dibahas dapat kita gunakan dalam konteks moderat seperti Hizbuddin, yang diartikan dengan tidak semata-mata mengajarkan anak tentang agama dan memastikan dia di jalan Allah lebih dari itu konsep hizbuddinhari ini yaitu memastikan semua orang semua kaum dapat beribadah dengan aman dan damai tanpa menghawatirkan sesuatu apapun.

Kedua, menjaga jiwa / hifdzunafs, yakni tidak hanya soal menjaga diri kita memastika tidak ada yang tercederai atau terbunuh lebih dari itu menjaga semua orang baik tetangga dekat maupun orang yang beda jauh dengan keyakinan kita untuk tetap hidup dan merasakan setiap hembusan nafas yang sama dengan kita.

Ketiga, menjaga lingkungan hidup. Menjaga lingkungan hidup semua mahluk yang ada di bumi dan berkomitmen untuk tidak merusak apalagi mengeksploitasi secara berlebihan yang dapat menghilangkan keseimbangan ekosistem mahlum hidup di bumi.

Sejalan dengan hal tersebut, orang yang sangat berpengaruh pada terus terjaganya kemoderatan di lingkungan adalah tokoh agama, seberapa banyak tokoh agama memahami dan mengamalkan kemoderatan disitulah kerukunan umat terjaga karena dampak dan pengaruh kebijakan dan sikap tokoh panutan adalah hal penting dan menjadi tolak ukur bagi masyarakat untuk itu penting sekali bagi kita msyarakat awam menilai dan mengikuti tokoh agama yang benar-benar sudah tidak diragukan lagi kemoderatannya dalam segi track record atau rekam jejak hidup dan segala nilai yang dianutnya.

Konten islam radikal di internet

Sekarang marilah kita menelisik terkait tantangan moderasi beragama dalam sisi pendidikan. Di lembaga pendidikan sekarang ini banyak hal yang membuat kemoderatan itu terkaburkan seperti banyaknya sumber rujukan belajar agama sehingga untuk orang awam sulit untuk mendeteksi buku mana yang tepat di jadikan rujukan terlebih di sekolah-sekolah kadang tidak disortir dengan baik asal masuk dan kegiatan belajar berjalan tidak mempertimbangkan kualitas buku dan rujukan. Kemudian, organisasi mahasiswa yang hari ini sangat berkembang pesat karena ada internet membuat mahasiswa yang ingin belajar agama ter-distrak oleh internet dan berbalik mengikuti internet. Akibatnya,diaktualisasikan pada komunitas atau organisasi yang diikutinya tanpa mengkaji lebih dalam bagaimana ilmu dan hakikat ilmu yang di pelajari dari internet.

Menurut riset tujuh dari sepuluh pelajar dan mahasiswa siap berjihad dan mati syahid dengan salah satu tujuannya memiliki tujuh bidadari di surga, tahun 2017 guru agama yang seharusnya menjadi tonggak pada terciptanya islam moderat tetapi malah tidak cukup mumpuni dalam memahami keislaman sehingga memunculkan dan menanamkan islam gaya baru pada peserta didiknya, pada 2018 di hasilkan riset lima corak kelompok keislaman di kalangan pelajar yaitu kelompok Jihadi, kelompok Salafi, kelompok Tahriri, kelompok Tarbawi, kelompok Islamis Multikuler.

Sebenarnya keurgensian dakwah Islam moderat itu disadari atau tidak memang pokok karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural, multietnik, multiagama, bertumpah ruah di Indonesia sehingga menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga semua kebinekaan jangan sampai terjadi seperti di Timur Tengah yang karena gesekan berbagai aliran dan semakin diletupkan dalam suasana politik yang panas sehingga meletuslah perang dan berbagai aksi radikal yang sangat tidak di benarkan. Pembahasan tersebut bukan asumsi belaka karena terdapat inter konesitas maslahahantara agama dan moderat. Maksudnya ialah dalil-dalil moderasi contohnya QS. al-Baqarah (2):143, QS al-Baqarah (5): 77, HR. Dallami.

Pada akhirnya, khazanah keislaman sesungguhnya sudah memiliki bangunan yang kuat terhadap maqosidu syari’ah keilmuan ini digagas oleh Al-Ghazali. Seiring perkembangan zaman terus diperbaharui namun, tetap memegang nilai kemoderatan itu sendiri. Agama islam adalah agama yang fitroh, karakter dan jasadnya sudah moderat. Bahwa sikap yang moderat adalah sikap yang menunjukan kemaslahatan secara bersamaan contoh seseorang belajar agama di pondok pesantren biasanya hanya memperhatikan konsep-konsep agama saja tanpa memperhatikan masalahal-Insaniyah, kita tahu lima kemaslahatan universal selain agama juga memelihara kemanusiaan atau sederhananya peka terhadap sosial. Jadi, jika kita berbicara agama tanpa memperhatikan kebaikan kemanusiaan juga tidak baik jika seseorang ingin dikatakan bersikap moderat maka, seseorang harus selalu memperhatikan kedua sisi yaitu agama dan kemanusiaan karena memang harus diakui kedua sisi itu harus jalan bersamaan sehingga tetap bijaksana serta bersikap ‘waras’ dalam menentukan sikap.

Agama saja tanpa kemanusiaan mungkin biasa saja menjadi alim dan ahli ibadah tapi, bagaimana amal untuk berbuat baik kepada sesama manusia atau kemanusiaan saja tanpa agama juga tidak stabil karena tolak ukur kebenaran yang abstrak dan mengikuti lingkungan akan membuat orang yang tak berpegang pada agama seakan terombang-ambing seperti kapal dalam lautan. (DEW)

Biografi Penulis

Sima Farihesti

Sima Farihesti atau biasa dipanggil Sima, merupakan salah satu mahasiswi dari jurusan Psikologi Islam semester 5 di IAIN Kediri. Selain itu, Sima juga menjadi santri Syarif Hidayatullah Cyber Pesentren yang berada di Jln.Sunan Ampel gang 1. Untuk mengenal lebih jauh tentang penulis, dapat menghubungi melalui e-mail pribadinya simafarihesti03@gmail.com

About author

No comments