BRAND AMBASSADOR PRODUK INDONESIA UNTUK PENINGKATAN PEREKONOMIAN DI ERA PANDEMI COVID-19

0

Tahun 2020-2021 merupakan tahun yang berat bagi seluruh negara di dunia, Covid-19 (Corona Virus Disease–19)  pertama kali ditemukan di Wuhan, China, kini telah menjadi pandemi. Covid-19 menyebar ke seluruh belahan dunia sehingga berdampak buruk di bidang kesehatan dan di bidang ekonomi termasuk di negara kita Indonesia. Melambatnya perekonomian akibat pandemi Covid-19 membuat banyak industri dalam negeri harus membatasi produksinya, karena daya beli masyarakat yang merosot tajam.

Dampak pandemi Covid-19 membuat banyak perubahan tata kelola keuangan negara, sehingga banyak program kerja strategis yang telah agendakan Pemerintah Indonesia terpaksa harus ditunda. Pengalihan dana program kerja tersebut banyak yang dialokasikan untuk penanggulangan bencana Covid-19. Alokasi dana penanggulangan bencana tersebut banyak didistribusikan untuk subsidi di sektor kesehatan dan ekonomi.

Pada bulan Maret 2020 lalu, Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan anggaran untuk penanggulangan bencana pandemi Covid-19 senilai 405,1 triliun, hingga membengkak mencapai 677,2 triliun pada awal Juni 2020. Ini merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia. Pada pembukaan Rakornas Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan pada Senin, 15 Juni 2020, bendahara negara menuturkan alokasi dana penanganan pandemi Covid-19 mencapai 686,2 triliun, dalam pemaparan realisasinya membengkak hingga akhirnya menjadi 698,2 triliun.[1]

Anggota Komisi II DPR RI Guspardi Gaus mendesak pemerintah untuk menunda proyek pembangunan ibu kota baru. Dan merelokasikan anggaran tersebut untuk mengatasi pandemi Covid-19. Hal ini lebih penting karena menyangkut keamanan dan kesejahteraan rakyat. Pengalihan anggaran untuk menangani pandemi Covid-19 harus segera dilakukan secara cepat dan tepat karena terbatasnya sarana dan prasarana di bidang kesehatan serta untuk pemulihan ekonomi yang beberapa bulan ini mengalami penurunan yang drastis.

Sementara itu kebijakan yang telah diambil pemerintah dengan dana yang cukup besar belum bisa mengurangi tingkat penyebaran Covid-19. Permasalahan ini diikuti dengan melemahnya perekonomian Indonesia sehingga berdampak terhadap pekerja yang dirumahkan dan diberhentikan. Data yang diambil dari Kemnaker (Kementerian Tenaga Kerja) pada 20 April 2020, jumlah pekerja yang terdampak Covid-19 mencapai total sebanyak 2.084.593 meliputi pekerja dari sektor formal dan informal dari 116.370 perusahaan. Rincian jumlah pekerja formal yang dirumahkan adalah 1.304.777 dari 43.690 perusahaan. Sementara itu pekerja formal yang di-PHK sebanyak 241.431 pekerja  dari 41.236 perusahaan. Sektor informal juga terpukul karena kehilangan 538.385 pekerja yang terdampak dari 31.444 perusahaan atau UMKM.

Sementara di sektor kesehatan, data dari CNN Indonesia pada tanggal 13 Agustus 2021 pasien positif Covid-19 menembus angka 3.804.943 kasus dengan presentase 3.289.718 sembuh, dan 115.096 meninggal dunia. Indonesia kini di peringkat tiga dunia dengan kasus mingguan tertinggi. Jumlah kasus baru Covid-19 global periode 19-25 Juli 2021 mencapai 3,8 juta, meningkat 8% dibandingkan dengan pekan sebelumnya atau rata-rata sekitar 540.000 kasus per hari.[1]

Terlepas benar atau tidaknya pandemi Covid-19 sebagai konspirasi dunia, namun faktanya saat ini Covid-19 telah menjadi ancaman di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Pandemi ini secara nyata merusak kesehatan yang berimbas terhadap perekonomian di setiap negara. Sehingga diperlukan solidaritas kita untuk saling bergotong royong menghadapi krisis ekonomi dan kesehatan saat ini.

Dari berbagai masalah yang diakibatkan pandemi Covid-19 tersebut, diperlukan inovasi dalam menangani krisis kesehatan yang berimbas pada sektor ekonomi dalam negeri. Legimitasi masyarakat terhadap pemerintah menjadi instrumen paling utama untuk tercapainya program yang telah di susun pemerintah. Perlunya menyatukan masyarakat untuk saling bahu membahu menyelamatkan perekonomian Indonesia akibat bencana Covid-19. Salah satu caranya dengan membeli produk dalam negeri untuk meningkatan ekonomi yang saat ini grafiknya semakin menurun.

Dikutip dari Tirto.id bahwa ada  penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2020  hanya mencapai 2,97% dari target kuartal yang di taksir berkisar antara 4,5-4,6%, lebih lambat dibanding capaian triwulan I-2019 yang mencapai 5,07%. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, penurunan konsumsi masyarakat disebabkan adanya kebijakan Work From Home (WFH) serta physical distancing selama pandemi Covid-19. Kebijakan tersebut  untuk meminimalisir penyebaran virus Corona dengan konsekuensi aktivitas di luar rumah sejak pekan  kedua Maret 2020 berkurang drastis. Kontribusi konsumsi pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai hampir 57 persen setara 9.000.000 triliun didominasi oleh daerah Jakarta dan Jawa yang mempunyai kontribusi besar sekitar 55 persen dari PDB Indonesia[2], jika 10 persen saja konsumsi PDB itu turun, maka dampaknya ditaksir dapat menyebabkan resesi di Indonesia.

Untuk meningkatkan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia sebagai upaya peningkatan ekonomi, langkah awal yang perlu dilakukan Pemerintah bersama DPR RI adalah dengan mengoptimalkan pemberdayaan industri dalam negeri. Salah satunya dengan cara membentuk suatu instrumen baru dan untuk menjaring minat masyarakat membeli produk dalam negeri. Untuk meningkatkan  penjualan barang dalam negeri salah satunya dengan mengadakan pemilihan brand ambassador Produk Indonesia di setiap daerah dan nasional.

Pendelegasian brand ambassador ini juga untuk meng-cover Undang-undang No. 29 tahun 2018 tentang Pemberdayaan Industri, yang mempunyai tujuan sama yaitu sebagai bentuk upaya pemerintah memberdayakan industri dalam negeri. Sehingga sangat berpotensi besar untuk menekan angka pengangguran yang terus melonjak akibat perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh adanya pandemi Covid-19, di sisi lain hal ini juga akan mempercepat angka pertumbuhan ekonomi.

Masuknya barang impor saat pandemi Covid-19 ini besar kemungkinan menjadi alat penyebaran virus sehingga perlu diminimalkan konsumsi barang impor. Inilah saatnya kita mengutamakan produk-produk dalam negeri. Untuk meningkatkan produktivitas dan penjualan produk dalam negeri, dibutuhkan instrumen serta sarana promosi yang baik. Brand Ambassador Produk Indonesia salah satu upaya agar meningkatkan kualitas dan penjualan barang-barang produksi dalam negeri.

Brand Ambassador Produk Indonesia dipilih sebagai salah satu instrumen untuk memecahan masalah dari terpuruknya ekonomi di masa pandemi ini. Karena selain menjadi ikon dalam mempersatukan masyarakat untuk saling bersinergi dalam pembangunan ekonomi, juga untuk memberikan edukasi serta wawasan betapa pentingnya mencintai dan membeli produk-produk dalam negeri.

Pemilihan brand ambassador produk didelegasikan mulai dari tingkat nasional sampai tingkat daerah. Dalam upaya memberikan edukasi terhadap masyarakat, brand ambassador skala nasional lebih dikhususkan melalui media televisi, media cetak, dan media sosial. Sementara itu, brand ambassador skala daerah lebih diprioritaskan untuk sosialisasi langsung ke masyarakat, melalui berbagai event di setiap kota.

Tokoh publik dari masing-masing daerah adalah sosok yang tepat dijadikan calon delegasi Brand Ambassador Produk Indonesia. Ada bebarapa poin penilaian dari pemilihan calon brand ambassador produk, pertama mempunyai pengaruh di daerah tempat dia tinggal karena ini akan menentukan value seberapa besar pengaruhnya dalam menarik minat masyarakat. Semakin berpengaruh seseorang dalam suatu masyarakat maka semakin besar pula dampak yang ditimbulkan.

Selain itu, juga mempunyai latar belakang pengusaha atau pebisnis, karena Brand Ambassador Produk Indonesia ini tidak hanya sebagai sarana kampanye, tetapi juga sebagai contoh nyata kepada masyarakat untuk memulai menggunakan produk dalam negeri, memberikan edukasi terkait kemanfaatan terhadap ekonomi secara nasional, sehingga diharapkan juga muncul wirausaha muda yang turut berpartisipasi untuk mendorong pemberdayaan industri dalam negeri.

Pemerintah dan DPR RI harus bekerja sama untuk menyukseskan program pemilihan Brand Ambassador Produk Indonesia serta mengevaluasi hal-hal yang dianggap masih kurang. Hal ini juga untuk menjaga terjaminnya kualitas serta mutu barang dengan harga yang kompetitif agar tidak kalah bersaing dengan produk impor, terutama produk-produk China yang sudah lama masuk di pasar industri dalam negeri.

Brand Ambassador Produk Indonesia tersebut diharapkan bisa memengaruhi masyarakat agar sadar untuk menggunakan produk dalam negeri. Dengan tingginya penjualan produk dalam negeri akan memudahkan pengusaha lokal untuk bangkit dari keterpurukan akibat Covid-19. Secara otomatis roda ekonomi akan berputar cepat kembali dengan banyaknya produksi barang-barang dalam negeri yang cepat dibeli konsumen.

Tingginya angka penjualan produk dalam negeri meningkatan ekonomi  terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja. Khususnya dalam masa pandemi kali ini mengingat banyak sekali pemangkasan karyawan. Hal ini juga menjadi berkat bagi Indonesia di masa pandemi ini, karena akan menjadikan negara Indonesia menjadi wilayah basis industri sehingga mendorong para vendor asing untuk membuka pabrik-pabrik di Indonesia, Selain itu juga akan menambah pemasukan pajak penghasilan (Pph) mengingat setiap barang yang diproduksi di Indonesia akan dibebankan pajak sehingga dapat menutup defisit anggaran belanja. Hal ini berpeluang bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa Indonesia mampu bersaing dalam sektor industri.

Brand Ambassador Produk Indonesia sebagai langkah awal menuju Indonesia emas, dengan terwujudnya neraca perdagangan yang surplus dan cadangan devisa yang tinggi. Dengan kekuatan ekonomi yang kuat, bangsa kita akan keluar dari berbagai krisis yang timbul akibat pandemi Covid-19. Keberhasilan produksi dalam negeri yang mampu mengalahkan produk impor akan membuat bangsa kita menjadi bangsa yang mandiri, tidak ketergantungan pihak luar negeri. (EN)

Profil Penulis

*) Moh. Farid Fauzi

Moh. Farid Fauzi, pemuda kelahiran Kediri, 22 Desember 1998 adalah mahasiswa aktif IAIN Kediri. Penulis memiliki bakat dan minat dalam dunia kepenulisan, MC, dan juga pengatur acara. Penulis adalah seorang yang menyukai tantangan dan mempelajari hal-hal baru. Untuk mengenal lebih dekat dengan penulis, silakan hubungi melalui email pribadinya hamzahwtanjung@gmail.com atau instagram @faridindonesian.

Daftar Rujukan

[1] https://cnnindonesia.com, Pemerintah tambah Anggara penanganan Corona jadi 695T, selaasa 16/06/2020.

[2] https://tirto.id, ekonomi kuartal 1 2020 tesuungkur, indonesia terancam resesi, vincent fabian thomas, 11 mei 2020.

About author

No comments

UTOPIA

Realitas bak bayangan surya Singgah di pertengahan setapak senja Kini, yang ada hanya opini semata Semua terkekang tahta dan egonya Yang lemah hanyalah remah Tergerus  ...