Melek Digital: Strategi Entrepreneurial Orientation oleh KKN-DR untuk Meningkatkan Pemasaran UMKM

0

Seperti bim salabim abrakadabra, seorang penyihir mengucap mantranya dan seketika semua berubah. Sesuatu yang mulanya ada jadi tiada. Sebaliknya, yang tiada pun jadi ada.  Namun, biasanya sesuai permintaan tuannya yang berkeinginan baik, ini malah dunia menjadi kacau balau adanya pandemi Covid-19 yang membuat dunia terserang kepanikan. Sehingga dapat diakumulasikan bahwa pandemi ini telah banyak merubah apapun yang ada.

Dampaknya amat sangat besar, entah darimana dan bagaimana ini semua berawal, untuk hal ini saja dunia terpecah menjadi dua kubu. Kubu yang A berasumsi virus corona merupakan virus baru yang berasal dari hewan kelelawar, yang satunya lagi beropini secara gamblang bahwa Vovid-19 merupakan konspirasi elite global. Rakyat kecil hanya mendengar saja. Bahkan ada yang sama sekali tidak tahu menahu apa itu Covid-19. Seolah rakyat kecil terlihat bodoh, padahal ini bukti kurang meratanya edukasi dan penyebaran informasi.

Kepanikan yang terjadi dimana-mana dan dari kalangan apapun. Rentetan fenomena terjadi menyambut awal tahun 2020. Sudah terlalu banyak yang berdampak akibat pandemi ini, baik fisik maupun psikis dan berbagai sektor yang ada. Mulai dari sektor hiburan/pariwisata, sektor transportasi, sektor pangan, sektor manufaktur, sektor pendidikan dan sektor sosial. Benar saja, seluruh sektor berdampak akibat pandemi virus ini.

Saya sebagai mahasiswa pun sangat merasakan dampaknya, yang dulunya anak kuliah berkutat pada makalah, presentasi, kuliah tatap muka, UTS, UAS, praktek dan sebagainya dilakukan di kampus tercinta. Namun kini bak bim salabim abrakadabra, semua berubah keseluruhan aktivitas dilakukan dari rumah. Tak jarang materi yang diberikan tidak terserap dengan baik dan tiba-tiba tugas hadir berdatangan. Kalau sudah begitu, ya kerjakan sebisanya (kata sebisanya bukan berarti menyerah) saja, namun dibaliknya banyak usaha yang dilakukan secara mandiri. Termasuk bertanya pada Google yang semakin akrab dengan kalangan pelajar sepertiku. Meskipun terkadang bukan malah mengerti, tapi justru bingung. Setidaknya sudah berusaha.

KKN adalah salah satu tahap dari sebuah proses mahasiswa untuk segera lulus dan meraih gelar sarjana. Dalam bayangan, tentu saja ini akan menjadi momen untuk merajut sebuah pengalaman dan kenangan yang berharga dalam lembar kehidupan. Mahasiswa semester 7  dibagi kelompok, diberi pembekalan lalu dilepas menuju desa-desa yang sudah dibagi pula oleh pihak kampus untuk melakukan pengabdian selama 45 hari. Namun, berbeda dengan tahun ini yang keadaan membuat semua terasa getir dan pahit. KKN dilakukan secara daring. Adapun istilahnya yakni KKN-DR (Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah). Melakukan pegabdian di desanya masing-masing.

Doktrin selalu ada hikmah dibalik musibah tertanam kuat dalam diri. Bagaimana jika kita berhenti mengeluh, meskipun keadaan memang pantas dikeluhkan. Tak dapat menyalahkan siapa-siapa. Mungkin kebijakan pemerintah memang baik. KKN-DR memberikan kesempatan kita untuk melakukan kontribusi terhadap keadaan lingkungan sekitar tempat tinggal.

Kita diharuskan mengamati lalu mencari solusi dengan berbekal ilmu yang telah kita timba di kampus tercinta. Dengan kata lain, kita dituntut untuk lebih peka terhadap keadaan sekitar serta menjalin kerja sama dengan warga maupun perangkat desa kita masing-masing. Kapan lagi mengabdi di desa sendiri jika tidak KKN tahun ini ? Berbekal rasa optimis tersebut, KKN-DR dilakukan dengan serius. Dan berkat bimbingan oleh dosen pembimbing lapangan satu persatu kebingungan mendapat solusi.

Jika ditanya sektor apa yang paling terpengaruh di desa, tentu saja sektor ekonomi paling dominan. Kondisi caruk maruk membuat perekonomian di pedesaan anjlok. UMKM merupakan salah satu sektor usaha yang terdampak pandemi Covid-19. Imbasnya sangat besar terhadap sektor ekonomi yakni membuat masyarakat mengalami krisis saat pandemi. Padahal menurut data, UMKM berkontribusi besar terhadap perekonomian di Indonesia. UMKM memiliki peranan yang sangat penting, lebih dari 50 persen produk domestik regional bruto (PDRB) Jawa Timur disumbang oleh koperasi dan UMKM. Berbagai program direncanakan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Untuk mengobati UMKM dari krisis Covid-19, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah program untuk mendukung pemulihan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terkena dampak. Untuk alokasi dana, pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp. 123,5 Trilliun untuk pemulihan UMKM. Di Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat pidatonya di Hari Koperasi Nasional  ke-73 tahun 2020 ini meminta koperasi dan UMKM segaera tranformasi ke digital.

Tak dapat dipungkiri, keadaan saat ini serba digital. Dunia digital mudah dan efektif untuk melakukan segala hal karena jangkauan yang luas. Bisa dibilang raja era ini, sehingga suatu seperti suatu tuntutan apa-apa merambah ke dunia digital. Kalau tidak ikut digitalisasi tentu akan mengalami kalah saing. Pelaku UMKM harus pandai mengatur strategi untuk mencari celah dan bersaing untuk menangkap peluang baru ditengah era normal baru pandemi Covid-19.

Strategi entrepreneurial orientation untuk meningkatkan pemasaran umkm di era normal baru ?

Dalam masa normal baru ini, tekanan akibat dampak pandemi sangat mempengaruhi penjualan produk UMKM. Perubahan ini mendorong pelaku UMKM harus memiliki kemampuan untuk inovatif, memahami tekonologi digital, manajemen dana, dan kewirausahaan. Menurut Kuncoro (2006), menyatakan bahwa sebuah usaha mikro kecil dan menengah di Indonesia secara kualitas sulit untuk berkembang di pasar karena memiliki masalah internal, yaitu rendahnya kualitas sumber daya manusia seperti kurang terampil, kurangnya orientasi kewirausahaan (Entrepreneurial Orientation), rendahnya penguasaan teknologi dan manajemen serta minimnya informasi.

Menurut Lumpkin dan Dess (1996), Orientasi Kewirausahaan (EO) adalah orientasi perusahaan (pelaku UMKM) yang meniliki prinsip terhadap upaya untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi kesempatan. Orientasi kewirausahaan mengacu pada proses praktik dan pengambilan keputusan yang mendorong ke arah input baru yang mempunyai tiga aspek kewirausahaan (yang paling penting) yaitu berani mengambil resiko, bertindak secara proaktif dan terus melakukan inovasi.

Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa inovasi yang saya lakukan dalam KKN-DR ini seperti membuat product photography, membuat desain katalog, membuat logo dan media sosial, serta menjajaki dunia marketplace untuk UMKM. Semoga beberapa strategi dan inovasi tersebut dapat menjadi strategi untuk bersaing di masa normal baru ini. Serta bersiap memasuki era digital 4.1 untuk pelaku UMKM di desa Paron.

Kesimpulannya, inovasi sangat dibutuhkan untuk mereduksi adanya ketimpangan ekonomi bagi pemangku sektor UMKM. Sudah dijelaskan, bahwa UMKM berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa yang bertugas mengabdikan diri kepada masyarakat seyogianya melek digital agar UMKM bisa beradaptasi selain dari pandemi, tetapi mengenalkan teknologi. Untuk itu, diharapkan dengan berbasis pelbagai platform media sosial strategi entrepreneurial orientation oleh KKN-DR untuk meningkatkan pemasaran umkm dapat memberikan sumbangsih dan terobosan terbaru masa pandemi. (EN)

Risma Dyah Amalia*

Risma Dyah Amalia*

* Risma Dyah Amalia adalah mahasiswi aktif program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam-IAIN Kediri (email: rismaamalia40@gmail.com)

highlight

About author

No comments