CERITA PENDEK: LUKA YANG MENDEWASAKANKU

0

DUKA. Sabtu, 26 Oktober 2020 tepatnya.

Hanya termangu, kosong, dan masih tidak percaya. Ini seperti mimpi bagi saya.

Nenek saya tiba-tiba jatuh pingsan di kamar mandi. Semua keluarga sangat khawatir akan keadaan nenek saya. Kemudian, memanggil dokter yang ada di puskesmas depan rumah untuk memeriksa keadaan nenek saya. Dokter berkata bahwa nenek saya harus segera di bawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah sangat kritis. Kemudian, nenek saya langsung dibawa ke Rumah Sakit Anwar Medika Sidoarjo karena berlokasi di dekat rumah saya sudah sangat dipenuhi pasien yang terkena Covid-19.

Setelah dibawa ke rumah sakit, nenek saya langsung masuk ke ruang UGD untuk di periksa oleh dokter. Nenek saya juga di foto rontgen di bagian kepalanya, setelah keluarga mengetahui keadaan nenek yang mengalami pembekuan pembuluh darah di bagian otaknya. Awalnya, dokter mengatakan bahwa nenek harus dioperasi tetapi melihat umur nenek saya yang sudah sangat tua, dokter tidak jadi melakukan operasi karena jika harus tetap operasi nanti bisa berakibat fatal.

Satu Minggu kemudian, nenek saya masih terbaring di ruangan ICU dan beliau juga mengalami koma karena pembuluh darah yang ada di otaknya pecah dengan sendirinya. Di masa pandemi seperti ini semua rumah sakit membatasi pengunjung. Kebetulan pada hari Selasa, 3 November 2020 saya dan bibi yang menjaga nenek di rumah sakit, tiba-tiba dokter memanggil salah satu keluarga dari nenek saya untuk menemuinya.

Kemudian, saya yang menemui dokter tersebut karena bibi tidak begitu mengerti kalau diajak bicara dengan memaknai Bahasa Indonesia. Di dalam ruangan dokter menyampaikan kabar mengejutkan untuk memindahkan alat bantu oksigen nenek saya langsung diarahkan ke paru-parunya, karena nenek saya sudah dikasih alat bantu pernapasan lewat hidung tapi tubuhnya masih belum bisa menerima alat tersebut. Di sini, saya sangat bimbang sekali karena baru pertama kali ini menandatangani sesuatu yang tanggung jawabnya sangat besar dan dokter juga berkata bahwa meskipun alat bantu ini dipindahkan tidak menjamin keadaan nenek saya semakin membaik.

Alhasil, langsung menandatangani surat persetujuan tersebut, karena apapun yang terbaik akan saya usahakan untuk nenek dan juga tidak lupa untuk selalu berdoa untuk meminta kesembuhannya. Lalu, ada om saya yang datang untuk bergantian menjaga nenek. Sesudah itu, saya menceritakan semuanya kepada bibi dan om saya. Keesokan harinya, tiba-tiba saya mendapat kabar dari om saya bahwa nenek telah menghembuskan napas terakhirnya. Saya dan keluarga sangat kaget mendengar kabar tersebut. Saya juga berpikiran, “Apa nenek meninggal karena surat persetujuan yang sudah saya tanda tangani”.

Tapi, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT. Kemudian, jenazah nenek saya langsung dibawa pulang, biasanya kalau keadaan pandemi Covid-19 seperti ini pengurusan orang yang meninggal di rumah sakit itu sangat susah sekali. Untung saja, salah satu keluarga ada yang bekerja menjadi supir ambulan di Rumah Sakit Anwar Medika Sidoarjo. Jadi, semuanya cepat ditangani oleh pihak rumah sakit dan langsung bisa di bawa pulang. (DEW)

BIOGRAFI PENULIS

Ilfi Nurdianah

Penulis bernama Ilfi Nurdianah merupakan mahasiswi jurusan Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Negeri Kediri. Penulis bisa dihubungi melalui ilfinurdianah@gmail.com

About author

No comments

UTOPIA

Realitas bak bayangan surya Singgah di pertengahan setapak senja Kini, yang ada hanya opini semata Semua terkekang tahta dan egonya Yang lemah hanyalah remah Tergerus  ...