Dedikasi Ustadz Nasrudin, lewat Kuthbah Jumat-nya; ANTARA TAKDIR DAN MENJAGA KESEHATAN

0

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وحده لا شريك له وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ.

أما بعد فيا أيها الناس اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

 Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt yang telah memberikan banyak anugerah, berupa iman, ihsan, dan kesehatan sehingga kita menyelenggarakan salat Jumat dalam kondisi yang serba terbatas.

Mudah-mudahan keterbatasan kondisi dalam suasana tanggap darurat Covid-19 ini tidak menghalangi kita untuk menyempurnakan ibadah demi meraih ridha Allah swt. Amin.

Salawat berserta salam terhaturkan ke junjungan Nabi Agung Muhammad saw. Semoga kita, keluarga besar kita, dosen, pegawai, dan seluruh mahasiswa tergolong umat beliau yang mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat. Amin.

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Tak lupa khatib berwasiat kepada diri sendiri dan seluruh jamaah. Ittaqillah. Bertaqwalah kepada Allah, dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Dan jangan sampai kita meninggalkan dunia ini kecuali dengan keadaan membawa iman, dalam kondisi islam dan ihsan.

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Alhamdulillah hari ini kita memulai aktivitas work from office setelah kurang lebih 3 bulan lamanya kita work from home. Semoga ini menjadi awal yang baik dan semoga pandemi segera berlalu dan kita bisa melaluinya dengan keadaan sehat tanpa kekurangan apa pun. Amin.

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Akhir-akhir ini ada banyak wacana yang berkembang terutama terkait dengan covid-19 dan keimanan kepada Allah swt. Di kalangan masyarakat beredar pemahaman bahwa hidup dan mati adalah takdir Allah swt.

Dalam konteks covid-19, pemahaman ini meyakini bahwa hidup dan mati adalah takdir Allah. Kalau Allah swt mentakdirkan kita mati, ya meskipun kita menjalankan protokol kesehatan secara ketat, ya pasti akan mati. Sebaliknya, kalau Allah swt mentakdirkan kita hidup, meskipun dikepung covid-19, ya kita akan tetap hidup.

Pandangan seperti ini menyebabkan masyarakat kurang aware terhadap kesehatan dan cenderung mengabaikan protokol kesehatan. Dan yang membuat repot adalah pandangan ini berbasis pada pemahaman keagamaan.

Meskkipun demikian, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: Benarkah Islam mengajarkan pandangan seperti ini?

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Dalam al-Quran Allah berfirman.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَافِي السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {70}

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj:70).

Benar bahwa Allah menciptakan Lauh Mahfudz yang di dalamnya tercantum semua peristiwa yang akan terjadi sejak zaman azali hingga kelak zaman keabadian. Segalanya sudah ditetapkan oleh Allah dengan kadar tertentu dengan sifat qudrah dan iradah Allah. Sebab itulah dalam ilmu tauhid kita mengenal apa yang disebut sebagai takdir.

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Apa itu takdir?

Takdir adalah segala yang sudah ditetapkan oleh Allah swt, dalam kadar dan ukuran tertentu, tentang segala makhluk Allah swt. Semua ini sudah tercantum dalam Lauh Mahfudz sejak zaman azali. Semuanya diliputi oleh ilmu Allah swt yang juga bersifat qadim (terdahulu).

Oleh karena itu, dalam perspektif Allah swt, takdir itu bersifat azali dan qadim (terdahulu) adanya. Semua sudah diketahui oleh Allah swt, tanpa terkecuali. Hidup dan mati seseorang. Rezeki dan jodoh seseorang. Semuanya sudah tercakup dalam ilmu Allah. Semua tercantum dalam Lauh Mahfudz.

Meskipun demikian, dalam perspektif manusia. Kita tidak akan mengetahui takdir tertentu sampai kita mengalaminya. Kita tidak tahu kapan kita mati sampai kita mengalaminya. Kita tidak akan tahu siapa jodoh kita sampai kita mengikrarkan ijab kabul. Kita tak akan tahu rezeki kita sampai kita mendapatkan penghasilan.

Oleh karena itu, dalam perspektif manusia, ulama membagi takdir ke dalam dua bagian: takdir mubram dan takdir muallaq. Takdir mubram adalah takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah swt dan tidak bisa diubah. Sedangkan takdir muallaq adalah takdir Allah yang bisa diupayakan oleh usaha manusia.

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Yang jadi persoalan adalah, seperti yang khatib singgung di muka, kita tidak akan tahu batas takdir mubram dan takdir muallaq sampai kita mengalaminya. Kita tak tahu kapan kita meninggal dunia sampai kita mengalaminya. Demikian juga kita tak tahu siapa jodoh kita sampai kita mengikrarkan ijab qabul.

Sebab itulah kita perlu usaha. Karena kita tak akan tahu apakah takdir mubram kita berjodoh dengan si Fatimah, misalnya, kalau kita tidak pernah ada ikhtiar untuk melamar Fatimah dan mengikrarkan ijab qabul dengan walinya.

Demikian juga, mahasiwa, misalnya, ia tidak akan bisa menjadi sarjana, tanpa ia tekun belajar dan menjalani seluruh proses perkuliahan hingga yudisium dan wisuda. Kita tak akan tahu berapa rezeki kita kalau kita hanya berdiam dan tak bekerja sama sekali.

Nah, melamar calon istri, bekerja, belajar, menulis skripsi, dan seterusnya adalah upaya atau kasab. Kasab atau upaya merupakan bagian dari sifat qudrah Allah yang dititipkan kepada makhluk yang diliputi sifat rahman-Nya.

Dalam konteks Covid-19 ini, kita akan lebih mudah terserang virus jika kita mengabaikan protokol kesehatan. Sementara kalau kita mematuhi protokol kesehatan, maka kita menempatkan diri sebagai makhluk Allah mendayagunakan kasab untuk mencapai mubram yang baik.

Ini adalah wujud keimanan yang baik. Mengimani akan adanya takdir mubram, sekaligus mempercayai eksistensi takdir muallaq, sekaligus mendayagunakan kasab sesuai kadar  kemampuan dan tujuan yang dikehendaki oleh Allah swt.

Maka mengenakan masker, menjaga jarak, dan menjaga kebersihan, bukanlah ekspresi takut kepada Corona, tetapi ekspresi seorang mukmin dalam rangka menetapi takdir muallaq dan mendayagunakan kasab untuk menjemput takdir mubram yang baik.

Dalam konteks yang lebih luas, mengenakan masker tidak hanya menjaga diri sendiri, melaikan juga menjaga orang lain. Maka mengenakan masker juga adalah wujud ekspresi muslim yang baik, karena memenuhi sabda Nabi:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya.” [HR Bukhari]

Dalam konteks Covid19, tentu saja muslim yang baik adalah muslim yang mampu menjaga diri sendiri dan orang lain agar tidak tertular, sekaligus tidak menularkan virus.

Seperti kampanye yang disampaikan KH. A. Mustofa Bisri, “Maskermu melindungiku. Maskerku melindungimu.”

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Demikian yang dapat khatib sampaikan. Semoga kita selamat melewat pandemi Covid 19 ini. Amin ya Rabbal Alamin. Salam… (@D)

Muhamad Nasrudin, MH*

Muhamad Nasrudin, MH*

*Muhamad Nasrudin, MH. Dosen IAIN Metro Lampung, Instruktur Nasional Moderasi Beragama Kemenag RI

highlight

About author

No comments

Filantropi Islam sebagai Terapi Pandemi

Beberapa hari lalu, saya diundang pada acara World Zakat Forum Intentional Conference dengan tema “Post Covid-19 Economic Recovery: the Role of World Zakat Forum”, beberapa ...