Mencari Identitas Pendidikan Indonesia

0

Pendidikan menjadi sebuah kebutuhan fundamental bagi setiap individu dalam rangka peningkatan mutu manusia di daerah maupun dalam lingkup negara yang akan menentukan mutu dari bangsa itu sendiri, tanpa adanya peranan pendidikan manusia akan mengalami degradasi kompetensi yang membuatnya sulit untuk berkompetisi, terutama bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.

Akibatnya, semakin luasnya ketimpangan pendidikan yang berdampak pada sulitnya mendapatkan akses pendidikan yang layak. Hal demikian dirasakan oleh mayoritas penduduk di kawasan Indonesia timur yang mana kualitas pendidikan masih jauh dari kata laik dan jauh tertinggal dengan yang ada di Pulau Jawa, infrastruktur  pendidikan yang baik menjadi hal yang langka di Indonesia timur serta begitu minimnya tenaga pengajar dan tingginya jumlah angka buta huruf di bagian timur Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 terdapat 6 provinsi dengan prosentase buta huruf tertinggi dimana Papua masih menjadi daerah dengan angka tertinggi (22,88%) diikuti NTB (7,51%) NTT (5,24%) Sulawesi Barat ( 4,64%) Sulawesi Selatan (4,63%) dan daerah dengan prosentase terendah diduduki Provinsi Kalimantan barat dengan (4,21%). Dari statistik di atas menjadi tugas pemerintah pusat maupun daerah dan juga seluruh elemen masyarakat untuk menekan prosentase ataupun rasio buta huruf di Indonesia timur.

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang difokuskan pada daerah 3T ( Tertinggal, Terluar, Terdepan) tantangan terbesar yang dihadapi pendidikan Indonesia adalah perbaikan kualitas manusia dan peningkatan kompetensi. Di dalam konteks ini, kemampuan literasi masyarakat yang masih stagnan dan kurangnya kesadaran masyarakat akan urgensi membaca.

Menurut riset melalui lembaga PBB OECD serta berdasarkan indikator Programme International Student Assesment  ( PISA) Indonesia masih dikategorikan sebagai negara dengan nilai di bawah standar dengan skor 371 sedangkan, standar PISA di angka 487 bila dikomparasikan dengan negara ASEAN Singapura masih memegang predikat dengan skor tertinggi di kawasan regional dengan 549. Prosentase skor Indonesia terus mengalami degradasi dalam kurun waktu tahun 2000-2018.

Pada tahun 2003, skor Indonesia sebanyak 382. Selama enam tahun berselang tepatnya pada tahun 2009 mengalami kenaikan 20 poin di angka 402. Riset kembali dilakukan oleh OECD pada tahun 2012 dimana Indonesia mengalami fluktuasi yang mana skor berada di level 396. Pada survei selanjutnya, di tahun 2015 skor Indonesia naik tipis di angka 397. Tiga tahun berikutnya tepatnya di tahun 2018 skor PISA Indonesia tergerus di angka 371.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti masih tingginya angka ketimpangan di daerah serta kurang dari 50 % siswa yang memenuhi standar baca minimum, esensi membaca menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan manusia yang berdampak langsung terhadap kapasitas intelegensi serta kompetensi individu. Bahkan, membaca menjadi sebuah kebutuhan, tetapi di negara berkembang hal tersebut jarang ditemui dan seakan kurang menjadi perhatian masyarakat.

Namun, berbanding terbalik dengan pemanfaatan akses terhadap internet. Menurut data dari We are social (2017), intensitas akses internet dan penggunaan gadget masyarakat Indonesia menghabiskan kurang lebih 9 jam perhari. Terdapat 164.610 perpustakaan di seluruh Indonesia justru kian ditinggal oleh para pembaca dan mayoritas masyarakat memilih media daring untuk mendapatkan sebuah informasi dan menanggalkan media cetak.

Perpustakaan sekolah pun seakan kurang optimal dan kurang diminati siswa disebabkan oleh  tidak adanya regenerasi buku dan banyak kurang efisien dari segi waktu siswa lebih memilih menghabiskan waktu di depan layar gadget serta aktif bersosial. Media aktivitas siswa banyak dihabiskan di dalam ruang kelas dan sekolah sehingga tidak ada minat untuk membaca atau mengulas kembali materi yang telah disampaikan. Namun, tidak sedikit pula siswa yang mengoptimalkan waktu belajar dengan mengikuti bimbingan belajar.

Terkadang siswa memiliki tendensi untuk belajar maupun mempelajari suatu materi ketika mendekati atau menghadapi ujian atau bahkan ketika ujian berlangsung saja alasan lainnya yang membuat siswa enggan mengakses buku walaupun hanya sekadar untuk membaca karena estimasi waktu yang terbatas dalam mengeksplorasi buku- buku yang ada di perpustakaan tersebut.

Berdasarkan problem-problem yang telah disebutkan di atas, kita masih mencari makna identitas pendidikan sebenarnya yang berlaku di Indonesia. Identitas pendidikan begitu penting mengingat kondisinya pendidikan masih tertinggal jauh dari negara tetangga.  Seyogianya, perlu digiatkan secara maksimal dan memproyeksikan gagasan-gagasan baru terkait bagaimana mengatasi kasus pendidikan yang terjadi di Indonesia. (DEW)

Biografi Penulis

*) Muhammad Iqbal Fuadhi

Salah satu mahasiswa program studi Pendidikan Bahaa Arab semester 6 IAIN Kediri. Untuk mengenal lebih jauh tentang penulis dapat follow akun instagramnya @Iqbalfuadhi dan facebook iqbalfuadhi atau menghubungi e-mail pribadinya @fuadhiiqbal@gmail.com

About author

No comments