LUNTURNYA NILAI TRADISI DI MASYARAKAT DESA NGUDIREJO KECAMATAN DIWEK KABUPATEN JOMBANG

0

Desa merupakan salah satu tempat yang konon katanya paling dirindukan semua orang terutama dalam perantauan. Namun, kehidupan desa era sekarang mengalami perubahan. Contohnya ialah di desa saya yakni Desa Ngudirejo yaitu semakin merosot seiring perkembangan zaman anak maupun orang dewasa ataupun tua mulai melanggar aturan yang telah ditetapkan di desa, saling mengolok atau mengejek tetangga. Banyak usia anak di desa sini yang secara moral kepada teman maupun orang lain yang jauh lebih tua itu kurang adanya kesopanan dan kurangnya tanggung jawab terhadap pekerjaan yang telah diberikan, dan tidak ada acara keagamaan di desa. Jadi orang-orang di desa saya itu kurang baik seperti mencari kesalahan orang lain, tidak mau mengakui kesalahan yang telah diperbuat oleh dirinya sendiri.Saya pernah melihat ketika masyarakat desa saya sedang berkumpul di rumah salah satu perangkat desa pada saat diadakan acara syukuran desa. Ketika mempersiapkan acara tersebut banyak anak-anak yang bergerumbul mencoret-coret tembok dan apabila diingatkan oleh salah satu warga, maka anak tersebut malah langsung lari begitu saja meninggalkan tempat itu tanpa meminta maaf dan menyadari kesalahannya.Saya juga melihat bahwa di lingkungan desa saya juga sebagian tidak mendukung dan orangtua pun kurang memperhatikan anaknya atau kemana anak itu bermain dan dengan siapa anak itu berteman, sehingga tanpa disadari tiba-tiba karakter anak berubah menjadi yang kurang baik. Kemudian, penyebabnya juga bisa saja dari teman sebayanya tidak berkarakter baik termasuk bisa mempengaruhi pertumbuhan anak tersebut. Jadi, pada dasarnya lingkungan keluarga terdekat atau yang bisa disebut orangtua adalah sosok yang paling utama dalam pembentukan karakter anak.

            Di samping itu, di desa saya juga masyarakatnya terutama anak muda sering keluar malam tanpa mengenal batas waktu. Padahal, seharusnya wanita tidak diperbolehkan keluar malem jika sendiri dan batasan keluar malam seharusnya maksimal jam delapan atau sembilan. Biasanya jika ada anak muda yang sering bahkan setiap hari keluar malam, maka bisa-bisa dicap ‘nakal; oleh orang sekitar. Tetapi, di desa saya identik orangnya atau anak mudanya sering keluar malam bahkan setiap hari. Itupun tidak di cap sebagai anak nakal, namun karena sudah menjadi kebiasaan di desa saya itu anak mudanya hampir setiap hari keluar malam. Kemudian, kekurangan di desa saya itu warganya tidak pernah mengadakan acara keagamaan seperti dibaan, yasinan, dan lain-lain seperti di desa lain.

Lalu, sekitar dua bulan yang lalu ada pendidik agama seperti bu nyai di desa saya. Beliau memberikan sebuah motivasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Beliau berupaya untuk mengubah sikap dan kebiasaan masyarakat di desa saya yang kurang baik menjadi lebih baik lagi. Jadi, pada setiap satu minggu sekali bu nyai tersebut mengunjungi rumah-rumah untuk memberikan sedikit demi sedikit wawasan mengenai keagamaan dan menyuruh warga di desa saya supaya belajar secara perlahan dan mendalami tentang keagamaan. Akhirnya, warga masyarakat di desa saya mencoba belajar dan mendalami mengenai keagamaan yang telah di berikan oleh pendidik agama di desa saya yaitu bu nyai tersebut. Sehingga warga masyarakat di desa saya yang dulunya belum terlalu mengerti bahkan ada yang tidak mengerti sama sekali mengenai keagamaan dan kegiatan keagamaan. Akhirnya, bisa mengerti bahwa di dalam keagamaan terdapat banyak sekali kegiatan yang sangat menarik. Jika kita mengikuti kegiatan keagamaan tersebut seperti dibaan, yasinan, wagean dan lain-lain pasti akan mendapat pahala dari Allah swt.

Lalu, bu nyai di desa saya juga mengamati perilaku serta latar belakang dari kehidupan di desa saya tersebut. Ternyata benar, setelah melihat sendiri kemudian bu nyai yang ada di desa saya menyimpulkan bahwa di desa saya memang terdapat kekurangan yang harus segera di carikan solusinya. Kemudian bu nyai di desa saya memberikan solusi kepada masyarakat di desa saya untuk mengadakan kegiatan jam’iyah diba’iyah yang bertujuan agar masyarakatnya bisa berpartisipasi dalam mengikuti kegiatan tersebut terutama pada anak mudanya supaya tidak keluar malam untuk hal yang tidak berfaedah. Karena di kegiatan ini mengajarkan seseorang untuk jujur, peduli, berani, dan tentunya bisa bersosialisasi dengan orang lain melalui kegiatan jam’iyah diba’iyah ini. Kemudian jam’iyah diba’iyah dilakukan setiap satu minggu sekali pada hari jum’at bertepatan dengan lahirnya Nabi Muhammad Saw. Dilakukannya yaitu pada malam hari habis magrib sampek sekitar jam sembilan. Dan tentunya nilai-nilai pendidikan karakter melalui kegiatan jam’iyah diba’iyah di desa saya ini merupakan hal yang sangat penting karena Islam kedepannya akan semakin maju, semakin berkembang, dan sebagai pembentukan karakter seseorang untuk dilatih dalam hal kerjasama karena pendidikan berkarakter ini akan mencetak generasi – generasi yang mulia. Semisal hanya dengan orangtua saja belum tentu karakter anak terbentuk karena belum bersosialisasi kepada orang lain. Maka, dari itu sebagai orangtua juga perlu mengikutkan anak-anaknya ke dalam organisasi-organisasi di desa agar anak tidak minder jika berkumpul dengan orang banyak. Tanpa pendidikan berkarakter, maka anak juga bisa menjerumuskan dirinya sendiri.

Berdasarkan kekurangan masyarakat di desa saya tersebut, apabila dilihat dengan menggunakan teori empirisme yang berarti kebenaran yang sempurna itu tidak diperoleh dengan akal, tetapi diperoleh atau bersumber dari panca indera individu yaitu mata, telinga, kulit dan hidung atau kebenaran merupakan hal yang sesuai dengan pelajaran masa lalu pada individu. Pada dasarnya, perkembangan individu tergantung dari keadaan lingkungannya dimana orang tersebut berada. Kemudian, pada teori empirisme juga menjelaskan bahwa segala keterampilan dan sikap individu dalam perkembangannya ditentukan oleh pelajaran masa lalu yang nyata dengan menggunakan alat indera yang positif secara langsung dapat berinteraksi dengan masyarakat luar. Jadi, menurut saya pada dasarnya seluruh pengetahuan yang telah atau sudah di rasakan serta di lihat itu akan di simpan di dalam memori otak kita, kemudian akan dikeluarkan kembali pada saat di butuhkan. Dengan demikian, pengindraan kita bisa memperoleh pengalaman–pengalaman yang tentunya akan menjadi pengetahuan kita kelak.

Sedangkan, pelajaran masa lalu didapatkan dari keadaan lingkungan atau masyarakat luar dengan menggunakan alat indera, sehingga dapat di katakan bahwa keadaan lingkungan lah yang membentuk perkembangan individu atau individu yang telah di didik.Jika dilihat dari masa lalu anak-anak di desa saya yaitu mereka terlalu mengandalkan orang tua mereka untuk membentuk kepribadian mereka. Mereka kurang bisa belajar dari lingkungan mereka. Orang tua mereka juga cenderung abai dengan tingkah laku anak–anak yang semakin hari semakin tak terkendali. Sedangkan menurut teori empirisme menurut David Hume, mengatakan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan.maksud dari teori Hume tersebut yaitu bahwa manusia akan lebih bisa merubah tingkah laku mereka jika ada stimulus eksternal yang membantu penguatan kepribadiannya. Anak-anak akan cenderung mengaplikasikan apa yang bisa mereka lihat dan rasakan, sehingga desa tersebut membutuhkan stimulan dari luar agar dapat merangsang tingkah laku anak-anak di desa tersebut.

Stimulan yang dimaksud yaitu bu nyai tersebut, Bu nyai tersebut ikut serta dalam merangsang tingkah laku orang desa tersebut untuk menjadi lebih baik dari perilaku sebelumnya. Beberapa dari perilaku tersebut bisa dikatakan akan bertahan lama jika memiliki penguat dalam kesehariannya, seperti anak-anak akan sering diba’an jika ada orang tua mereka yang ikut diba’an atau orang yang lebih dewasa ikut juga dalam pengajian tersebut. Anak kecil cenderung mengikuti dan mempelajari tingkah laku melalui panca indera mereka, dan umumnya mereka akan ikut- ikut orang dewasa, jadi alangkah baiknya jika kita memperbaiki moral dan perilaku orang dewasa dahulu sebelum mengubah perilaku pada anak – anak tersebut.

Berdasarkan teori David Hume ini, akal hanya mengelolakonsep gagasan inderawi dan pengetahuan itu bersumber dari pengalaman yang di terima oleh kesan inderawi. Jadi hal tersebut dapat mendorong kita bahwa untuk menemukan suatu pengetahuan itu maka kita harus memerlukan pengalaman kita.  Kaum empiris jugamenganggap akal sebagai sejenis tempatpenampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Anak-anak akan nurut dan tidak membantah  jika terdapat pada tingkah laku orang dewasa itu perilakunya baik. Jadi apabila anak tidak bisa nurut maka panca indra anak tidak bisa menangkap tingkah laku baik dari orang tua mereka, maka mereka akan cenderung menerapkannya di dalam keseharian mereka.

Kemudian teori empirisme yang berhubungan dengan proses pengindraan bahwa apa yang terjadi, apa yang mempengaruhi, dan apa yang membentuk perkembangan dari setiap individu yang di didik menjadi lebih baik adalah pada keadaan lingkungan dengan panca inderanya yang berarti tidak ada yang terjadi dengan tiba – tiba tanpa dengan proses pengindraan. Jadi berdasarkan kekurangan di desa saya yang dilihat berdasarkan proses pengindraan yaitu ketika bu nyai di desa saya mengamati perilaku serta latar belakang dari kehidupan di desa saya tersebut. Setelah beliau melihat sendiri dengan panca inderanya, kemudian bu nyai yang ada di desa saya menyimpulkan bahwa di desa saya memang terdapat kekurangan yang harus segera di carikan solusinya atau intinya bu nyai saya berusaha merubah kekurangan yang ada di desa saya menjadi kelebihan dan edepannya bisa menjadi lebih baik lagi dari beberapa bulan yang lalu.

Sedangkan, berdasarkan empirisme menurut John Lock dengan teorinya yaitu tabularasa.  Beliau mengatakan bahwa manusia dilahirkan seperti kertas putih dan berdasarkan pengalaman inderawi yang telah mengisi pikiran seseorang. Jadi, semua ide menurut John Lock itu asalnya dari pengalaman. Kemudian, menurutnya bahwa pengalaman itu terdiri dari pengalaman eksternal semisal penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman atau bisa juga rasa yang masuk ke dalam otak melalui rangsangan dari pengamatan di lingkungan eksternal. Jadi, berdasarkan kekurangan masyarakat di desa saya ialah tidak pernah mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan. Kemudian, pada saat bu nyai di desa saya setiap satu minggu sekali berkunjung di rumah warga untuk memberikan motivasi dan hal–hal yang berhubungan serta menerapkan dengan kegiatan–kegiatan keagamaan seperti dibaan, yasinan, wagean dan lain–lain. Akhirnya, setelah bu nyai memberikan motivasi mengenai keagamaan, warga masyarakat di desa saya yang melihat dan mendengar lantas meresapi perkataan yang telah diberitahukan kepada bu nyai di desa saya tersebut.s Kemudian warga masyarakat di desa saya berusaha belajar dan mendalami apa yang telah di berikan oleh bu nyai. Jadi,intinya seseorang bisa mengerti mengenai hal – hal yang berhubungan dengan keagamaan itu karena sebelumnya telah belajar dari orang lain yaitu bu nyai yang membuat masyarakat di desa saya menjadi masyarakat yang perilakunya jauh lebih baik.(DEW)

BIOGRAFI PENULIS

Aminatus Widya P

Aminatus Widya P merupakan mahasiswi program studi Psikologi Islam semester lima IAIN Kediri. Selain menjadi mahasiswa, penulis juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan seperti UKM Intelektual dan Remas. Apabila ingin mengenal lebih dekat dengan penulis dapat follow akun instagramnya @widya_345 atau menghubungi e-mail pribadinya aminatusw@gmail.com

Saya aktif di organisasi kampus yaitu ukm PI (Pengembangan Intelektual). 

Saya juga aktif pada organisasi remaja

About author

No comments